Wisma Yaso, Surga dan Penjara Sang Proklamator

Bagian depan museum Satria Mandala atau Bekas Wisma Yaso



Wisma Yaso. Seyogyanya Sukarno membangun rumah itu sebagai tempat untuk beristirahat, melepas lelah dari segenap tugas kenegaraan dan berbagi cinta dengan sang istri kelima Naoko Nemoto atau yang memiliki nama lain Ratna Sari Dewi. Namun apa daya, rumah itu juga kemudian yang menjadi 'penjara' baginya sekaligus menjadi tempat perasingan oleh pemerintahan yang berkuasa saat itu, hingga akhir hayatnya.

Awalnya, pada 1960, Wisma Yaso dibuat untuk salah seorang istri Soekarno, Ratna Sari Dewi. Gadis muda berparas menawan asal Jepang itu dipersunting presiden berjuluk Putra Sang Fajar, saat presiden melakukan tugas kenegaraan ke Jepang pada Juni 1959. Selama beberapa tahun Dewi dan Sukarno memadu mahligai rumah tangga di rumah itu.

Tetapi, Wisma Yaso yang terletak di Jalan Jendral Gatot Subroto 14 kini sudah beralih fungsi menjadi sebuah museum bernama Satria Mandala milik TNI. Hampir semua bentuk bangunan sudah dirubah setelah diresmikan menjadi museum oleh Presiden Soeharto pada 5 Oktober 1972. Museum ini menampilkan benda-benda bersejarah peninggalan para pejuang dan tokoh TNI dari tahun 1945 hingga sekarang.

Ketika saya memantau ke beberapa bagian bangunan, nyaris tidak ditemukan barang-barang yang berbau Soekarno-Ratna Dewi, sebagai penghuni bangunan itu dulunya. Semua ruangan kini telah beralih fungsi sebagai tempat untuk memamerkan koleksi museum.

Di sebelah kanan bangunan utama, tampak beberapa ruangan. Irwansyah, seorang petugas museum menjelaskan, ruangan-ruangan tersebut dulunya merupakan kamar para ajudan Presiden Sukarno. "Ini dulu tempatnya para ajudan Pak Karno. Ada ruangan kamar dan kamar mandinya," katanya, 

Sayangnya Irwansyah mengaku tidak tahu banyak mengenai fungsi ruangan lainnya sebelum bangunan itu menjadi museum. "Yang saya tahu, ruangan yang sekarang jadi tempat pamer senjata, itu dulunya adalah kolam renang milik Bu Dewi. Ruangan yang lain saya tidak tahu persisnya, karena saya masuk ke sini pada pertengahan tahun 80," katanya.

Sepengetahuan Irwansyah, satu-satunya bangunan rumah yang masih dipertahankan keasliannya adalah tangga batu yang berada di sisi kiri luar bangunan museum. Tangga itu kini menghubungkan antara koridor depan museum dengan kantin. "Setahu saya itu tangga itu masih asli dari dulu. Kalau bangunan utama rumahnya sudah dirombak sejak beralih fungsi menjadi museum," katanya.

Seorang pegawai lain mengatakan, sebuah tempat di dalam museum itu, yang kini menjadi penyimpanan koleksi barang-barang milik Soeharto, dulunya merupakan tempat istirahat Bung Karno. "Semasa beliau sakit sebelum meninggal ya di rawat di tempat itu," katanya. (Fha)

Baca selanjutnya ..
Di Sini Kemerdekaan Itu Berkumandang




PULUHAN anak-anak terlihat bermain bola, riang. Di beberapa sudut  tampak orang-orang berkumpul, ada yang berfoto dan adapula yang hanya sekadar bersantai. Para skateboarder juga nampak memainkan papan skateboard dengan lincah. Suasana di area Tugu Proklamasi yang terletak di Jalan Proklamasi 56, Jakarta Pusat, ramai. Kamis (29/11), saya merenung di sini, berkhidmad di depan dua buah patung, dua gambaran sosok yang punya arti penting bagi terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari tempat inilah deklarasi kemerdekaan berkumandang, disambut riuh gembira rakyat. Dari sinilah Indonesia menjadi sebuah negara berdaulat. Dari tempat inilah tetes air mata keharuan bercucuran dari mata rakyat Indonesia. Kita merdeka, bung! 

Proklamasi yang dulu dilaksanakan di tempat ini, melalui proses yang cukup pendek, meski cita-cita kemerdekaan sudah ada sejak lama, sejak Belanda terus menggerus kedaulatan bangsa. Berawal dari menyerahnya Jepang atas Sekutu pada 15 Agustus 1945 akibat bom atom yang menggempur dua kota besar di Jepang, beberapa anak bangsa memanfaatkan moment ini untuk mendeklarasikan kemerdekaan. 

Apalagi, pihak Jepang sudah membuat Mou bahwa mereka ingin mengembalikan Indonesia kepada Belanda. Beberapa gerakan dilakukan oleh para anak bangsa, salah satunya adalah peristiwa Rengasdengklok, dengan tujuan untuk mengamankan Sukarno dari pengaruh Jepang serta untuk meyakinkan dia bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu. 

Sementara, di saat yang sama, di Jakarta, para golongan muda dan golongan tua, salah satunya adalah Mr. Ahmad Soebardjo, melakukan perundingan. Mr. Ahmad Soebardjo menyetujui untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jakarta. Maka diutuslah Yusuf Kunto untuk mengantar Ahmad Soebardjo ke Rengasdengklok. Mereka menjemput Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta kembali ke Jakarta. 

Mr. Ahmad Soebardjo berhasil meyakinkan para pemuda untuk tidak terburu-buru memproklamasikan kemerdekaan. Setelah tiba di Jakarta, mereka pulang kerumah masing-masing. Mengingat bahwa hotel Des Indes (sekarang kompleks pertokoan di Harmoni) tidak dapat digunakan untuk pertemuan setelah pukul 10 malam, maka tawaran Laksamana Muda Maeda untuk menggunakan rumahnya sebagai tempat rapat PPKI diterima oleh para tokoh Indonesia. 

Di rumah Laksamana Maeda ini, naskah proklamasi dirumuskan oleh Sukarno, M. Hatta dan A. Subardjo dan disetujui oleh para tokoh yang hadir. Setelah naskah proklamasi sudah dirumuskan dan ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta, di rumah Laksamana Maeda, pada Jumat menjelang subuh, 17 Agustus 1945, kemudian ada pembahasan untuk menentukan tempat. Sukarni mengatakan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya, telah diserukan agar datang ke lapangan IKADA pada tanggal 17 Agustus untuk mendengarkan Proklamasi Kemerdekaan. 

Namun saran tersebut ditolak oleh Sukarno. Menurut Sukarno, dengan memobilisasi massa ke Lapangan IKADA, hal tersebut akan memancing terjadinya insiden, karena lapangan IKADA merupakan lapangan umum. Sukarno tidak ingin terjadi salah paham dengan para penguasa militer saat itu. Sukarno menyarankan agar pemabacaan proklamasi kemerdekaan dilakukan di depan rumahnya saja, di Jalan Pegangsaan Timur Nomer 56, pada pulul 10.00 pagi. Sebelum meninggalkan rumah Maeda, Bung Hatta berpesan kepada para pemuda yang bekerja pada pers dan kantor-kantor berita, untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia. 

Sementara para tokoh lain bergerak, mempersiapkan pelaksanaan deklarasi kemerdekaan. Wakil Walikota Suwiryo meminta kepada Wilopo untu mempersiapkan pengeras suara. Sementara, Sudiro memerintahkan S.Suhud untuk mempersiapkan tiang bendera untuk mengibarkan bendera merah putih. Suhud menemukan bambu di belakang rumah Sukarno, membersihkannya, diberi tali, dan lalu ditanam beberapa langkah dari teras rumah. Ia tidak tahu kalau di depan rumah Sukarno ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. 

Sementara itu, bendera yang dijahit oleh Fatmawati, istri Sukarno, sudah disiapkan. Pagi itu, rumah Sukarno mendadak dipadati oleh para tokoh pejuang, sejumlah massa pemuda dan rakyat yang berdatangan untuk menyaksikan peristiwa bersejarah pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Seiring waktu beranjak siang, para sudah tidak sabar dan mendesak agar Sukarno segera membacakan proklamasi kemerdekaan. 

Padahal, saat itu, Sukarno masih dalam kondisi tidak sehat. Sukarno ingin membacakan teks proklamasi, tapi dengan syarat, yakni M Hatta harus menyertainya. Sementara, saat itu, M. Hatta belum datang. Beberapa menit sebelum acara dimulai, akhirnya M. Hatta datang. Ia menggunakan setelan putih-putih dan menjemput Sukarno di kamarnya. Sukarno senang melihat kedatangan M. Hatta. Soekarno pun bangkit dari tempat tidurnya dan lalu mengenakan busana yang sama, seperti yang dikenakan oleh M. Hatta. 

Keduanya lalu menuju teras rumah, berada di depan massa yang sudah menunggu. Selanjutnya, detik-detik yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia itu dilaksanakan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Ir. Sukarno didampingi oleh Drs. Muhammad Hatta membacakan teks naskah Proklamasi yang sebelumnya telah diketik oleh Sayuti Melik. Dan Indonesia, Merdeka. Di lokasi pembacaan teks proklamasi itu, kini berdiri dua patung sosok proklamator, Sukarno dan M. Hatta. Dua patung itu, berdiri dengan tegak, meski setiap sore menjadi penonton anak-anak yang bermain sepakbola di pelataran depan patung, masyarakat yang berolahraga atau menghabiskan senja di sini. Dua patung ini, terkadang juga menjadi tempat aduan para demonstran yang prihatin dengan kondisi bangsa jaman sekarang. 

Di tengah dua patung proklamator, juga terdapat patung naskah proklamasi terbuat dari lempengan batu marmer hitam, dengan susunan dan bentuk tulisan mirip dengan naskah ketikan aslinya. Sementara, bangunan rumah Sukarno, telah dirobohkan sekitar tahun 1960. Banyak pihak yang menyayangkan perobohan rumah Sukarno. Padahal, rumah tersebut, menjadi salah satu saksi atas deklarasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Saat ini, sebuah tugu bernama Tugu Petir, menjadi tempat yang menunjukkan keberadaan rumah Bung Karno sebelum dirobohkan. Di sinilah proklamasi itu dulunya dikumandangkan. 

Gerimis yang turun pelan-pelan dari langit menjadi saksi perpisahan saya dengan dua patung proklamator bangsa itu. Tugu Proklamasi, seharusnya tempat ini menjadi tempat merenung untuk para anak bangsa yang lain, untuk para pemimpin di masa kini, agar selalu teringat bagaimana perihnya para pejuang bangsa dalam meraih kemerdekaan. Betapa besar pengorbanan yang mereka lakukan. Hanya untuk Indonesia. Hanya untuk kedaulatan tanah pertiwi. Dan inilah Tugu Proklamasi, sepenggal sejarah penting telah tercatat di sini

Baca selanjutnya ..
Sensasi Hotel Bintang Lima Untuk Anjing di Vodka & Latte






Masyarakat pecinta Anjing di Jakarta jumlahnya begitu banyak. Atas dasar kecintaan, mereka bahkan rela merogoh koceknya dalam-dalam untuk memberikan perawatan terhadap Anjing yang tidak hanya menjadi hewan perliharaan, namun juga sudah menjadi sahabat bagi pemiliknya.

Ini yang tampak di Vodka & Latte, sebuah dog grooming center yang berada di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. Saben hari, di tempat ini, penuh dengan Anjing-anjing yang mendapat perawatan salon maupun Anjing yang memang sengaja dititipkan oleh pemiliknya.

Di tempat ini, tersedia berbagai pelayanan untuk Anjing. Tidak hanya salon dan spa, Vodka & Latte juga menyediakan penginapan atau hotel untuk Anjing. Tidak main-main, hotel untuk Anjing di sini setara dengan hotel bintang lima. Aristina Budhi, General Manager Vodka & Latte mengungkapkan, setidaknya terdapat 40 kandang untuk fasilitas hotel, 10 kandang untuk Anjing berukuran besar dan 20 kandang untuk Anjing kecil.

“Untuk fasilitas hotel ini, fasilitas yang akan didapatkan antara lain makan dan minum antara 2-3 kali sehari, penyisiran bulu, jalan-jalan untuk bermain tiga kali sehari, pengecekan dan pembersihan kandang tiap jamnya untuk menghindari bau dan bakteri dan mandi gratis jika Anjing menginap selama 7 hari,” kata Aristina kepada Warta Kota, Senin (10/11).




Selayaknya kamar sebuah hotel pada umumnya, di dalam kandang disediakan selimut dan bantal untuk para Anjing yang menginap. “Biasanya si pemilik Anjing juga membawa serta mainan-mainan dari rumah untuk menemani Anjing menginap,” kata Aristina. Tarif yang dikenakan per malam (24 jam), antara Rp125 ribu-Rp175 ribu, tergantung dengan ukuran Anjing.

Untuk fasilitas salon, Vodka & Latte menawarkan berbagai jenis pelayanan, baik layanan mandi, potong bulu, styling, spa, pewarnaan bulu sampai dengan pembuatan tato untuk Anjing. Semua styling dikerjakan oleh stylish dari Jepang, yakni Suzuki dan Miyahara. “Semua peralatan yang kami gunakan juga sudah berstandar Internasional, mengadopsi teknologi yang digunakan di Jepang. Begitupula tenaga stylish kami datangkan langsung dari Jepang,” jelasnya.

Biaya yang dikenakan untuk perawatan Anjing berkisar antara Rp175ribu hingga jutaan rupiah. “Tergantung jenis pelayanannya, termasuk ukuran Anjing dan bentuk bulu Anjing. Untuk styling juga terkadang pemilik Anjing meminta bentuk-bentuk tertentu,” kata Aristina.

Di Vodka & Latte juga tesedia toko yang menjual berbagai keperluan Anjing, dari makanan, aksesoris, baju hingga mainan. Pun ada layanan Day Dare, yang kerap digunakan para pencinta Anjing untuk menitipkan Anjingnya dalam waktu yang tidak lama. Di ruangan Day Car, Anjing-anjing akan dimanjakan dengan aneka permainan, termasuk bisa bersantai sambil menonton televisi atau film-film tentang Anjing. Agar tidak bosan, selama penitipan Anjing-anjing juga akan diajak jalan-jalan ke dog park area bermain yang ada di bagian lain tempat tersebut.


Melengkapi fasilitas-fasilitas tersebut, Vodka & Latte juga menyediakan kolam renang. Di kolam tersebut, Anjing-anjing bisa berenang atau sekadar bermain air ditemani oleh para pengasuh dari Vodka & Latte.

“Ada dua ukuran kolam renang. Salah satunya ukuran kecil seperti jacuzi untuk Anjing kecil atau Anjing yang baru memulai pengalaman pertamanya dengan air. Kami juga sediakan pelampung untuk para Anjing dan juga staff yang berjaga di dalam air selama Anjing-anjing berenang,” jelas Aristina.

Selagi menunggui Anjing kesayangan yang sedang mendapatkan perawatan, para pemilik Anjing bisa bersantai dia kafe yang ada di Vodka & Latte. Ada dua bagian kafe, indoor dan outdoor.  Di kafe itu, pecinta Anjing juga bisa makan bersama dengan Anjing kesayangan karena juga tersedia berbagai makanan panas dan siap saji untuk Anjing seperti pasta dengan saos keju, daging cincang dengan sayuran dan sosis serta kentang lembut.

Standar Jepang

Vodka & Latte merupakan gagasan bisnis dari tiga orang pecinta Anjing yang selama ini sulit menemukan tempat pelayanan Anjing dengan kualitas bagus di Jakarta. Mereka adalah Susan Santoso Laurens Yahya dan Giri Sumantri.

“Gagasan awal muncul dari sahabat saya, Giri Sumantri. Sebagai pecinta Anjing, dia kerap melihat berbagai pelayanan Anjing di berbagai negara yang sulit ditemui di Indonesia. Gagasan untuk mendirikan dog grooming center kemudian muncul. Setelah melakukan riset ke berbagai negara, kami melihat untuk pelayanan terbaik bagi Anjing adalah di Jepang,” kata Susan Santoso, salah satu pendiri.
Maka kemudian, mereka bertiga menggandeng seorang pakar dog grooming dari Jepang, Tetsuya Yoshida, sebagai konsultan Vodka & Latte.

 “Dia sudah berpengalaman di bidang ini lebih dari 20 tahun. Di Vodka & Latte, dia menunjukkan teknik pengguntingan dari rambut Anjing yang terbaru dari Jepang, yang tentu saja sangat berbeda daripada teknik pengguntingan konvensional. Soal kebersihan dan cara merawat Anjing di iklim tropis seperti Indonesia juga diajarkan oleh dia, dan itu sangat membantu kami dalam menjalankan bisnis ini, utamanya dalam memberikan pelayanan terbaik kepada para pelanggan kami,” katanya.

Vodka & Latte mulai beroperasi sejak 3 bulan lalu, dan sudah memiliki banyak pelanggan.
“Kami berharap Vodka & Latte busa memberikan penglaman baru bagi para penyayang Anjing di Idonesia. Kami juga senang bisa menghadirkan tempat dimana para pencinta dan komunitas Anjing bisa melakukan berbagai macam aktvitas dan berbagi pengalaman bersama di sini,” kata Laurens Yahya. 

Vodka & Latte by Tetsuya Yoshida
Jalan Kemang Timur 88A, Jakarta Selatan
Telpon: 021 717937373
@vodcaandlatte

Baca selanjutnya ..
Warung Kriwil: Selera Bos, Harga Mahasiswa





Capuchino dan seporsi singkong goreng rasanya cukup untuk tiga jam nongkrong di Warung Kriwil yang berada di bilangan Pondok Bambu Jakarta Selatan. Secangkir capuchino harganya Rp13.000 dan seporsi ketela rebus tak lebih dari Rp7000. Sangat pas dengan kantung mahasiswa.

Kedai yang didirikan awal 2014 ini memang menyasar para mahasiswa sebagai pelanggannya karena lokasinya yang berdekatan dengan beberapa kampus. Saben hari, tempat ini ramai dikunjungi para mahasiswa. Bukan hanya karena harga-harga yang ditawarkan cukup terjangkau, tetapi juga karena suasana kedai yang nyaman dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas setara kafe-kafe kelas atas seperti pendingin ruangan, Wi-Fi, sofa, televisi layar datar dan tempat ibadah.

Meskipun tidak terlalu besar, kesan kedai ini cukup modern dilihat dari penataan interior. Kombinasi warna cerah merah, hitam dan hijau memberikan nuansa tenang. Terlebih, pada beberapa bagian dindingnya diberikan sentuhan-sentuhan property unik seperti kayu-kayu bertuliskan kalimat yang menggugah soal kebiasaan minum kopi. Pada dinding lain, terpampang gambar menu-menu. Sedangkan pada dinding bagian dalam, nuansa art sangat terasa dengan adanya lukisan maupun gambar-gambar para tokoh pewayangan.

“Awalnya tempat ini warung biasa, jualan makanan seperti warteg. Tapi dengan banyaknya mahasiswa yang suka menghabiskan waktu di sini, kami ubah desainnya seperti kafe. Lihat saja, desain dan fasilitas kami lengkap. Tapi harganya masih cukup terjangkau,” kata Zainal Abidin, Manajer Warung Kriwil kepada Warta Kota, akhir pekan lalu.

Masalah penentuan harga, awalnya pengelola Warung Kriwil mengalami dilemma. Sebab, berbagai menu yang disediakan di sana harusnya dijual dengan harga lebih. Tetapi, melihat segmen mereka yakni kalangan mahasiswa, pengelola tidak berani mematok harga menu terlalu tinggi.

“Sebagai sebuah bisnis, tentu keuntungan adalah salah satu prioritas kami. Tapi kami juga melihat segmen. Kasihan para pelanggan kami yang mayoritas adalah mahasiswa jika kami mematok harga terlalu mahal,” jelasnya.

Ya, jika melihat daftar harga menu-menunya, tagline yang diusung kedai ini yakni  ‘Selera Bos, Harga Anak Kos’ cukup terbukti. Misalnya saja menu Ayam Taliwang, menu favorit Warung Kriwil yang hanya berbanderol Rp15 ribu untuk satu porsi. Padahal, menu khas Nusa Tenggara Barat (NTB) ini disajikan dengan tampilan istimewa dengan rasa yang super lezat. Di restoran atau kafe lain di Jakarta, harga menu Ayam Taliwang ini bisa di atas Rp50 ribu.


ayam taliwang

Jika datang ke tempat ini, jangan lewatkan kesempatan untuk merasakan lezatnya aneka nasi goreng. Ada beberapa jenis nasi goreng yang bisa Anda pesan, namun yang paling favorit adalah Nasi Goreng Kriwil. Berisi campuran nasi, daging sapi, telur dadar, rasakanlah kelezatan nasi goreng yang dibuat menggunakan bumbu kare ini. Lagi-lagi menu istimewa ini ditawarkan dengan harga yang cukup murah, hanya Rp15 ribu untuk satu porsi. Menu-menu makanan lain juga dijual dengan harga yang hampir sama.

Di deretan menu minuman, aneka blended menjadi idola pelanggan Warung Kriwil. Minuman ini merupakan racikan dari kopi tradisional, susu, coklat, vanilla folder dan rum bakar. Juga tersedia aneka kopi Nusantara yang diracik oleh barista berpengalaman, seperti Kopi Gayo, Robusta, Kopi Toraja, Kopi Papua dan jenis kopi lain. Atau cobalah minuman teh menyehatkan yang dilabeli Thai Tea dan Green Tea. Harga minuman antara Rp3 ribu sampai Rp14 ribu.

“Biasanya para mahasiswa menghabiskan waktu hingga berjam-jam di sini, baik untuk sekadar berkumpul dengan teman-temannya atau mengerjakan tugas sambil menikmati internet gratis,” kata Zainal.

Mahasiswa Jadi Barista

Selain menawarkan tempat yang nyaman dengan harga yang murah, para pelanggan Warung Kriwil juga  bisa mencoba belajar menjadi barista atau peracik kopi. Berbagai bahan dan alat meracik kopi tersedia di bar Warung Kriwil. Hal ini, kata Zainal, dilakukan agar terjadi kedekatan secara emosional antara pengelola Warung Kriwil dengan para pelanggannya.

“Pelanggan kalau di sini sudah seperti di rumah sendiri. Kami bebaskan pengunjung menjadi barista. Sebagian sudah ada yang memang bisa. Tapi banyak yang mencoba-coba meracik kopi dengan alat dan bahan yang kami sediakan,” kata Zainal.

Selain itu, imbuh Zainal, pelanggan juga bisa me-request menu yang belum tersedia di Warung Kriwil. “Kami selalu mencoba dekat dengan para pelanggan; seperti sahabat. Kadang mereka request menu yang belum ada di sini dan kami mempertimbangkannya. Beberapa menu kami saat ini juga hasil request pelanggan.”
Ardi (27), pengunjung kedai itu mengaku segera terpikat meskipun baru pertama kali mencoba merasakan sensasi  berada di Warung Kriwil. “Seperti tagline kedai ini, selera bos harga mahasiswa,” katanya. Ia juga mengakui kelezatan berbagai menu yang ia pesan malam itu.

“Di Jakarta ternyata masih ada makanan enak yang dijual semurah ini. Di sini bisa makan sepuasnya tanpa menguras kantung,” ungkapnya. (fha)

Warung Kriwil
Jalan Pangkalan Jati 1 No2 Rt01/01, Pondok Labu, Jakarta Selatan atau persis di belakang Kampus UPN Veteran pondok Labu
Jam Operasi: 09.00-24.00
Fasilitas: free music, AC, Wi-Fi, Mushola
Kapasitas: 25 orang
Telepon: 02129325579

Baca selanjutnya ..
Nostalgia Masa Kecil di Museum Layang-Layang

Feryanto Hadi



Berkunjung  ke museum yang menyajikan koleksi sejarah dan budaya mungkin sudah menjadi hal biasa buat kita. Apalagi ke museum yang memamerkan kemajuan teknologi. Tapi bagaimana jadinya jika museum yang kita kunjungi menyajikan koleksi layang-layang, sebuah permainan yang mungkin menjadi bagian dari masa kecil kita? begitulah yang kira-kira saya rasakan ketika berkunjung ke museum ini seorang diri, belum lama ini 

Jika penasaran atau mungkin ingin bernostalgia dengan masa kecil, maka cobalah untuk berkunjung ke Museum Layang-Layang yang terletak di Jalan H. Kamang No. 38 Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Di museum ini, terdapat beragam koleksi layang-layang dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari manca negara.

Letak museum ini yang berada di jalan kecil, menjadi salah satu kendala bagi masyarakat yang ingin datang ke museum tersebut. Jalan H. Kamang sendiri berada di jalan raya yang menghubungkan Pondok Labu dan Fatmawati. Jika Anda datang dari arah Fatmawati, jalan H.Kamang ini berada di sebelah SD Pondok Labu atau sebelum Sekolah Al Izhar Pondok Labu. Ikuti petunjuk arah di sisi kanan jalan, 500 meter kemudian Anda akan segera sampai di museum ini.

Jika ingin menikmati koleksi layang-layang yang unik dan estetik, pengunjung di atas 3 tahun dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 10.000. Mungkin Anda berpikir, harga tersebut kok lebih mahal dibandingkan jika masuk ke museum lain? Memang benar adanya. Hal ini disebabkan karena Museum Layang-Layang merupakan museum swasta, yang tentunya tidak mendapat subsidi dari pemerintah. Tapi jangan kuatir, dengan Rp. 10.000 kita akan mendapatkan berbagai fasilitas seperti menonton film di ruang audiovisual, touring museum serta belajar membuat layang-layang.

Sejarah

Museum Layang-Layang  tidak seperti museum lain yang berada di bawah dinas atau kementerian dan mendapat dana pengelolaan termasuk untuk menggaji karyawan. Museum ini, murni milik swasta dan dikelola oleh sebuah yayasan. 

Museum Layang-Layang  Indonesia didirikan oleh seorang pakar kecantikan yang menekuni dunia layang-layang sejak tahun 1985 dengan membentuk Merindo Kites & Galery yang bergerak di bidang layang-layang. Namanya Endang W. Puspoyo. Kecintaannya yang mendalam kepada layang-layang, beliau kemudian mendirikan Museum Layang-Layang Indonesia pada 21 Maret 2003 dengan tujuan untuk melestarikan budaya layang-layang tradisional yang unik dari setiap wilayah Indonesia. Sebelum menjadi museum, bangunan yang kini dipakai untuk museum adalah sebuah home industry yang memproduksi layang-layang yang banyak di-ekspor ke luar negeri.

Kiprahnya dalam mendirikan Museum Layang-Layang Indonesia ini, telah mendapat pengakuan dan penghargaan dari berbagai pihak, seperti penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk pemecahan rekor pemrakarsa dan penyelenggara pembuatan layang-layang berbentuk diamond terbesar pada 2011 serta penghargaan kepariwisataan Indonesia pada 2004, yang diberikan oleh I Gede Ardika selaku Menteri Kebudayaan dan Pariwisata saat itu.

Salah satu Manajemen museum, Nai R.  Aslamiah ketika saya temui di lokasi menjelaskan bahwa jumlah koleksi layang-layang dimuseum ini berjumlah 600, namun jumlah tersebut terus bertambah seiring datangnya koleksi-koleksi baru dari para pelayang daerah dan luar negeri maupun layang-layang yang dibuat sendiri oleh karyawan museum.

Koleksi layang-layang di museum ini, terdiri dari koleksi dalam negeri maupun koleksi dari manca negara, termasuk layang-layang tradisional dan modern. Mulai dari layang-layang berukuran dua centimeter, hingga yang berukuran besar. Bahkan, dalam museum ini terdapat beberapa koleksi layang-layang berukuran raksasa terbesar di tanah air seperti layang-layang ‘Megaray’ berukuran 9 X 26 meter yang dapat disewakan untuk kegiatan eksibisi.

“Fasilitas lain selain ruang pamer museum adalah ruang pemutaran audio visual, dimana di sana pengunjung bisa menyaksikan pemutaran festival layang-layang di berbagai daerah, teknik menerbangkan layang-layang, baik layang-layang kreasi, olahraga maupun layang-layang tradisional,” jelas Nai

Selain itu, imbuh Nai, di komplek museum juga terdapat ruang pamer batik, yang dimana batik-batik itu adalah koleksi pribadi milik pendirimuseum, Endang W. Puspoyo.  Juga tedapat beberapa fasilitas lain seperti mushola, kantin serta rumah budaya yang kerap menjadi tempat pembuatan layang-layang berbagai jenis.

Mandiri Di Tengah Tantangan Besar

Hiruk pikuk teriakan para bocah pecah, ketika kami masuk ke lingkungan Museum Layang-Layang Indonesia, Selasa (20/11) siang. Puluhan bocah itu ternyata adalah siswa kelas II SDK IPEKA Puri Jakarta Barat yang sedang melakukan studi lapangan. Anak-anak itu nampaknya sedang asik melukis layang-layang, di salah satu taman lingkungan museum. Mereka nampak riang, menikmati, dan tak henti-hentinya ber-ekspresi menggores layang-layang dengan cat warna-warni.

“Inilah yang menjadi salah satu kekuatan kami, pemasukan-pemasukan dari kunjungan seperti ini,” ujar Nai R.  Aslamiah salah satu manajemen Museum Layang-Layang Indonesia ketika saya jumpai di tengah kesibukannya melayani anak-anak itu. 

“Ini sudah menjadi resiko kami sebagai museum swasta, yang tidak mendapatkan dana dari pemerintah. Kita harus bekerja keras untuk bisa mandiri, untuk menggaji 23 karyawan serta untuk biaya pengelolaan museum,” imbuh dia.

Meski tiket masuk tergolong lebih tinggi dibanding dengan museum-museum ‘negeri’, yakni Rp. 10.000 per orang, namun diakui Nai pemasukan dari tiket saja tidak bisa diandalkan untuk menutupi kebutuhan yang dibutuhkan museum.

“Tapi sejak tahun 2007 pengunjung mulai bertambah, seiring banyak masyarakat yang tahu museum ini.  Di hari libur, sampai saat ini, jumlah pengunjung bisa mencapai 300 orang per hari.  Dan kalau lagi high session, jumlah pengunjung sebulan bisa mencapai 7000 orang. Tapi kalau di rata-rata per-harinya 75 orang. Dan kita juga sering mengadakan pelatihan-pelatihan di luar dan sering juga digandeng oleh perusahaan untuk mengisi acara. Itulah yang membuat sampai saat ini kita masih eksis, kita mencoba untuk mandiri,” terang Nai 


Cerita dan Mitos Yang Menyertainya

Masuk ke bangunan utama Museum Layang-Layang Indonesia, kita akan segera disajikan oleh pemandangan yang menarik. Bayangkan, di ruang yang tidak terlalu besar ini, beragam layang-layang dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara, menghiasi seluruh bagian ruangan. 

Dua layangan 3 Dimensi besar menjadi penyambut bagi para pengunjung. Salah satu layang-layang berukuran besar itu bernama Janggan, berasal dari Bali. Layangan ini barangkali menjadi salah satu koleksi yang paling menarik. Bayangkan, selain bentuknya yang unik, layangan ini memiliki panjang ekor lebih dari 100 meter yang membuatnya gagah saat dia menembus angkasa. Kepala naga yang menjadi bagian teratas dari layangan, jika sedang berada di angkasa, seolah hidup dan menari. Dari informasi yang kami dapat, banyak perlakuan khusus yang diperlukan untuk kepala naga pada layang-layang Janggan ini. Layang-layang ini, oleh masyarakat Bali, disimpan di dalam Pura, ketika tidak digunakan berlayang, dan baru dikeluarkan saat akan dilakukan upacara pensucian layangan akan dimulai, tepatnya dua hari menjelang pesta layang-layang Bali.

Layang-layang lain yang berada di dalam ruangan ini adalah Len Bulenan, berasal dari Madura. Len Bulenan, dalam bahasa Madura berarti bulan. Layang-layang ini, rangkanya terbuat dari bamboo dan bahan pembungkusnya terbuat dari plastik berwarna putih. Bentuk layangan ini terdiri dari bentuk purnama dan bulan sabit. Umumnya, layangan ini dipasang juga alat bunyi yang dapat mengeluarkan suara saat terbang, seperti layangan tradisional Indonesia yang lain.

Layang-layang Koangan dari Jakarta menjadi koleksi menarik lain di museum ini.  Layang-layang  tradisional yang rangkanya terbuat dari bambu yang diraut ini memiliki bentuk yang cukup sederhana. Badan layangan dibungkus dengan kertas minyak. Selain itu, layang-layang ini juga dilengkapi dengan bunyi-bunyian yang merdu sehingga dikenal sebagai layang-layang koang atau koangan. Sedangkan warna-warna pada layangan ini tidak mempunyai arti khusus, hanya saja biasanya banyak layang-layang ini diberi hiasan ornament jika diperlombakan pada acara-acara khusus.

Cerita lain tentang layang-layang

Layang-layang yang menjadi koleksi di Museum Layang-Layang Indonesia, tidak hanya menarik dari sisi bentuknya saja. Namun, cerita di balik layang-layang itu yang membuat layang-layang itu menjadi lebih istimewa.
 Beberapa koleksi layang-layang di sini, mempunyai catatan mitos tersendiri, sesuai dari asal layangan tersebut. Bahkan, di beberapa tempat, layang-layang dianggap sebagai benda magis. Seperti layang-layang yang berasal dari Jawa, misalnya. Di Jawa, ada layang-layang yang digunakan untuk mengusir serangga dan burung liar di ladang sawah.  Misalnya saja layang-layang tradisional Pepetengan yang berasal dari Jawa Barat.  Layang-layang ini, oleh sebagian masyarakat Jawa Barat, difungsikan juga untuk menjaga sawah mereka. Melalui bunyi dan motif hiasan di dalamnya, Pepetengan diterbangkan berhari-hari untuk menghalau burung yang mengganggu padi.
Di Bali, cerita tentang layang-layang juga tak kalah menarik. Masyarakat Bali, masih kerap menggunakan layang-layang untuk melindungi singgasana para dewa. Dewa Layang-layang di Bali adalah Rare Angon. Dewa itu selalu diberi sesaji dan disembah sebelum layang-layang diterbangkan. Layang-layang yang telah disucikan itu merupakan benda sakral dan disyaratkan tidak boleh menyentuh tanah. Bila hal itu tidak diindahkan, konon akan terjadi kemalangan.
Cerita unik lain berasal dari daerah di Sumatera Barat, dimana sebagian masyarakat masih percaya pada layang-layang bertuah yang bisa memikat anak gadis. Layang-layang ini, bernama dangung-dangung.
Di Jawa Barat, Lampung, dan beberapa tempat di Indonesia ditemukan layang-layang yang dipakai sebagai alat bantu memancing. Layang-layang ini terbuat dari anyaman daun sejenis anggrek tertentu, dan dihubungkan dengan mata kail. Di Pangandaran dan beberapa tempat lain, layang-layang dipasangi jerat untuk menangkap kalong atau kelelawar. Sedangkan di Kalimantan Selatan, layang-layang Dandang dipercaya bisa menjadi berkah bagi masyarakat Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Di beberapa daerah lain, layang-layang dimainkan sebagai bagian dari ritual tertentu. Biasanya terkait dengan proses budidaya pertanian.
Tentunya masih banyak koleksi layang-layang lain yang ada di Museum layang-Layang Indonesia, baik layang-layang dari dalam negeri maupun dari mancanegara. Masing-masing layang-layang, memiliki cirri khas dalam bentuknya maupun cerita yang mengiringinya. 


Layang-Layang Kreasi Hiasi Koleksi Museum Layang-Layang Indonesia 



Bangunan Museum Layang-Layang, cukup unik. Pada bagian depan museum, sebuah bangunan joglo membuat kami merasakan sensasi berbeda, seperti tidak berada di sebuah museum, melainkan di rumah tinggal biasa. Apalagi, lingkungan di komplek museum cukup teduh, dengan banyaknya pepohonan rindang yang ada di sana. 

Beberapa karyawan nampak sedang menjemur layang-layang di sebuah bagian halaman. Kata seorang pegawai, layang-layang itu adalah hasil kreasi para anak sekolah yang melakukan studi ke museum tersebut, dengan salah satu kegiatannya adalah melukis layang-layang.

Langit di atas museum yang beralamat di Jalan H. Kamang No. 38 Pondok labu, Cilandak, Jakarta Selatan, pada Rabu (21/11) siang itu, masih nampak mendung. Kami sendiri, setelah melihat layang-layang kreasi para siswa itu, segera naik di bangunan joglo, bagian depanmuseum. Di sini, ada peraturan bahwa alas kaki harus dilepas.

Di bangunan joglo itu, beberapa koleksi layang-layang unggulan Museum Layang-Layang Indonesia bisa kita saksikan. Kebanyakan, adalah layang-layang kreasi, yang pernah mengikuti festival di beberapa kota bahkan ke mancanegara. 

Salah satu layang-layang yang mencolok berbentuk naga, dengan ekornya yang menjulur panjang. Kemudian ada layang-layang berbentuk serangga dengan ukuran besar pula. Selain itu, di tempat ini juga ada beberapa layangan lain yang berukuran besar seperti layang-layang 3 Dimensi berbentuk kereta kuda, layang-layang Pegasus dan yang unik adalah layang-layang 3 Dimensi yang berbentuk orang sedang bersepeda. 

Menurut Nai R.  Aslamiah, salah satu manajemen Museum Layang-Layang Indonesia, layang-layang kreasi ini sebagian dibeli dari para pelayang saat ada pelaksanaan festival di beberapa daerah. Harganya, ternyata cukup mahal, antara 30-50 juta.

Perjalanan kami belum selesai, di dalam bangunan utama museum, konon banyak tersimpan layang-layang unik yang lain, khususnya layang-layang yang mengandung unsur mitos, berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan luar negeri


Layang-Layang Kaghati  Dari Sulawesi Selatan Yang Penuh Mitos



Salah satu koleksi Museum Layang-Layang Indonesia yang cukup unik adalah layang-layang yang berasal dari Muna, Sulawesi Selatan. Namanya, Kaghati. Sampai saat ini, layang-layang tradisional ini masih begitu digemari dan dilestarikan masyarakat Muna karena di samping sebagai hiburan sebelum dan sesudah masa panen, namun layangan ini memiliki latar belakang yang cukup sacral dan keyakinan mendalam bagi masyarakat tradisional Muna jaman dulu serta mempunyai nilai ritual tersendiri berikut penjelasan dari nara sumber tentang cerita rakyat turun temurun yang tidak tertuliskan dalam catatan buku.

Sesuai cerita yang ada secara turun temurun, masyarakat, terutama yang mendiami pulau Muna ada dua kelompok. Pertama, yang tinggal di dalam gua dan kelompok kedua yang tinggal di atas pohon. Kelompok masyarakat yang tinggal di gua-gua dipimpin oleh seorang kepala kelompok yang bernama Lapasindaedaeno dengan istrinya bernama Wa Ntiwose, merasa mempunyai anak laki-laki yang bersama La Rangku.

Pada saat itu, kedua kelompok masyarakat ini hidup bersamaan dan tidak pernah terjadi pertengkaran di antara mereka. Mereka belum mengenal pakaian dan api, makanannya hanya binatang-binatang buruan seperti  babi hutan, biawak, ular dan lain-lain. Mereka juga memakan makanan yang serba mentah.

Pada suatu ketika, istri ketua kelompok yang tinggal di gua-gua  berkata kepada suaminya bahwa ia ingin makanan yang bukan hanya dari binatang dari hasil buruan hutan, melainkan ingin menggantinya dengan tumbuh-tumbuhan. Mendengar ucapan istrinya tersebut, Lapasindaedaeno atau kepala kelompok masyarakat gua pergi untuk bermeditasi. Beberapa hari kemudian, selesailah meditasinya dan dia mendapat petunjuk yakni harus mengorbankan jasad anak laki-laki mereka, kemudian jasadnya dibagi menjadi empat dan dikuburkan di empat penjuru di tengah hutan. 

Petunjuk tersebut dilaksanakan oleh kepala kelompok masyarakat gua. Empat puluh hari kemudian, di panggillah istrinya untuk  masuk ke dalam hutan dan setelah tiba di tempat di mana anak mereka dikuburkan jasadnya, mereka melihat tumbuhan menjalar berupa umbi-umbian termasuk ‘Kolope’ (gandung). Dengan melihat tumbuhan tersebut, maka gembiralah hati sang istri dan sang suami berkata bahwa sesungguhnya itulah anak laki-laki mereka.

Ingin menjangkau Matahari dengan layang-layang

Masyarakat pada waktu itu hanya bersenang-senang pada waktu siang hari karena terdapat matahari, tapi bila pada malam hari mereka sangatlah susah dan sedih, sehingga mereka berkeyakinan bahwa mataharilah yang membuat mereka bisa hidup.

Selanjutnya, kepala kelompok masyarakat gua bermeditasi lagi guna mendapatkan petunjuk untuk kelanjutan hidup masyarakat yang dipimpinnya. Dalam perjalannya dia melihat angin yang sangat kencang bertiup dan membuat daun-daun gandung beterbangan di langit. Sejak saat itu, ia merenung kemudian mendapatkan petunjuk untuk naik ke matahari, sehingga dia menggerakkan seluruh masyarakatnya untuk memetik daun gandung dan membuat tali sepanjang-panjangnya.

Daun gandung tersebut disusun di atas rangkaian bambu yang sudah diraut dan dibuatkan layang-layang seperti model segi empat, lalu diikat dengan tali dan diterbangkan secara beramai-ramai. Setelah layang-layang sudah terbang, mereka bersorak gembira dan masing-masing berpegang di tali layang-layang agar mereka dapat terbang ke langit dan sampai ke matahari.

Tetapi niat tersebut tidak mungkin tercapai hingga pada akhirnya mereka putus asa, namun mereka tetap yakin bahwa layang-layang merupakan sarana penolong mereka dan memayungi mereka agar tidak terkena sengatan matahari di hari kemudian setelah mereka meninggal dunia. Keyakinan ini masih dianut oleh masyarakat hingga sekarang ini. Sehingga, setiap petani membuat layang-layang dan layang-layang tersebut bukan hanya suatu benda untuk bermain api, ada nilai-nilai tersendiri yang sangat sacral terutama pasca upacara-upacara sesudah panen.

Layang-layang biasanya menjadi hiburan mereka yang dinaikkan sejak sore hari hingga pagi. Maka dibuatlah upacara dengan memutuskan tali layang-layang tersebut dengan niat bahwa seluruh halangan dan rintangan yang tidak baik atau kesialan segera terbawa oleh layang-layang yang telah putus itu disertai dengan sesajen berupa ketupat dan makanan-makanan lain yang digantung di tali layang-layang.

Fakta sejarah tentang keberadaan layang-layang di Muna yang telah menjadi polemik dunia yaitu dengan adanya lukisan orang bermain layang-layang yang ada di salah satu goa purbakala sesuai hasil penelitian Arkeologi Nasional tahun 1981, 1986, 1991:
Periodik: Epi – Paleotik (Mesolitik) atau zaman prasejarah peradaban manusia zaman batu. Lokasi goa ini terdapat sebuah tempat berjarak 8 km dari kota Raha, kemudian menempuh jalan raya pergeseran 5 km, selanjutnya tracking (jalan kaki) sejauh 4 km ke arah tenggar. Letak goa ini berada di atas bukit batu dengan kemiringan 90 derajat.

Layang-layang yang seidentik dengan Kaghati juga ada di Kepulauan pasifik yang dimiliki oleh suku Maori yang mereka sebut dengan Manu, sedang di Muna ada juga jenis layang-layang untuk mainan anak kecil yang disebut Kamanu-manu Kadao yang hanya terdiri dari satu helai daun ubi gandung.

Demikian mitos yang terdapat pada layang-layang Kaghati, hingga kemudian tersohor ke penjuru dunia.(Feryanto hadi)


Baca selanjutnya ..
Powered By Blogger

  • Foto saya
    DKI Jakarta
    Wartawan di harian Warta Kota, Kompas Gramedia. Follow @FeryantoHadi

    Total Tayangan Halaman

    Pengikut Blog


    waktu jualah yang akan menghentikan pengembaraan singkat ini