Setu Babakan: Betawi Dari Sejengkal Tatapan





Gerbang tinggi dengan lambang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta itu bernama Bang Pitung. Lewat dari gerbang itu, sebuah perkampungan dengan nuansa Betawi dapat ditemui. Rumah-rumah dengan ornamen khas, penjaja kuliner betawi, menjadi pemandangan di sisi kiri dan kanan jalan. Setidaknya terdapat 3000 kepala keluarga yang menghuni kampung itu. Mayoritasnya adalah etnis betawi yang sudah turun temurun mendiami kawasan itu. Di perkampungan tersebut, masyarakatnya masih mempertahankan budaya dan cara hidup khas betawi seperti memancing, bercocok tanam, membuat kerajinan
 dan membuat makanan khas betawi. kegiatan berkesenian di kampung itu pun selalu hidup.

Di ujung jalan, sebuah pemandangan danau menghampar. Pada saat kunjungan saya Kamis (29/5/2015) sore, cahaya kekuningan matahari memantul di permukaan air yang jernih, menimbulkan bias-bias yang mengesankan. Bayangan pepohonan rindang berbaris di tepian danau. Sementara, muda-mudi dan masyarakat lain yang umumnya datang satu keluarga duduk santai di tepian danau.

Suasana di Setu Babakan sore sedang ramai. Orang-orang datang sejak siang hari, menikmati pemandangan dan suasana asri yang ada di setu yang terletak di Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Orang-orang datang rombongan, didominasi oleh kaum muda.

Lebih banyak dari mereka berjalan berkeliling danau, baik dengan berjalan kaki, menggunakan sepeda motor atau mobil, menikmati udara segar dan teduhnya suasana di sana. Tapi tidak sedikit yang duduk di kursi-kursi di tepian danau sembari mengobrol atau mencermati keindahan yang mereka rasakan sekaligus menyantap aneka makanan yang dipesan dari para penjaja di kawasan setu.


Bagi yang ingin merasakan sensasi naik perayu bebek kayuh, cukup membayar Rp 5000 per orang dan nikmatilah liburan asyik di atas permukaan setu yang luasnya mencapai 32 hektar. Loket untuk wisata air ini berada tak jauh dari panggung pertunjukkan.

Nuansa Betawi



Setu Babakan tidak hanya menjadikan wisata alam. Berada di sana pengunjung dapat merasakan kedekatan dengan budaya Betawi. Bagaimana tidak, hampir semua pedagang di kawasan wisata itu menjajakan aneka makanan dan minuman khas betawi. Sambil bersantai menikmati keindahan setu, pengunjung bisa menikmati soto betawi, kerak telor, roti buaya, tahu gejrot, toge goreng, bir pletok dan kuliner khas betawi lainnya. Pengunjung bisa pula membeli pernak-pernik khas betawi seperti baju pangsi, kebaya, kaos benyamin dan lain-lain.

Selain itu, pada hari-hari tertentu, khususnya pada akhir pekan, pengunjung juga bisa melihat aktifitas kesenian betawi yang dibawakan oleh anggota sanggar di sana,antara lain kesenian tari, musik tanjidor, ondel-ondel, lenong, gambang kromong dan pencak silat seni. Pertunjukkan biasanya dilakukan di panggung terbuka yang letaknya berada satu area dengan kantor pengelola.

Syah Farid (32), pemuda betawi kampung setempat menggambarkan betapa besarnya perubahan yang dirasakan pasca-penetapan kawasan Setu Babakan sebagai Pusat Budaya Betawi pada 2004 silam, atau bertepatan dengan Hari Ulang Tahun DKI Jakarta ke-474. Terlebih, penetapan tersebut disertai upaya perbaikan atau pembangunan sarana dan prasarana, khususnya di kawasan Setu Babakan.

“Babe saya sudah sejak 1990 jualan baju khas betawi di sekitar setu ini. Dulu masih sangat sepi. Kawasan setu juga masih penuh dengan rumput alang-alang. Masih banyak jalan tanah. Belum tertata seperti sekarang ini,” katanya. Sejak setahun terakhir Farid meneruskan usaha ayahnya yang telah wafat, mengelola sebuah brand baju pangsi berbendera  MSC Pangsi Betawi sekaligus menjual baju-baju tersebut di kawasan wisata Setu Babakan.

Sebagai pemuda Betawi, Farid bangga kampungnya menjadi salah satu tempat dengan budaya betawi yang masih kental. “Seperti kita tahu, di Jakarta perkampungan Betawi sudah tergusur, semakin terpinggirkan. Beruntung di sini budaya Betawi masih terjaga. Budaya, baik seni maupun kuliner khas betawi masih lengkap di sini. Kalau tidak dilestarikan, bisa-bisa budaya betawi nanti hanya tinggal sejarah saja,” ujarnya.

Menjadi salah satu ‘kawasan emas’ yang tersisa, pada 2013 Pemprov DKI mengucurkan dana Rp290 miliar untuk menata Setu Babakan. Uang tersebut, sebagian digunakan untuk membangun Art Zone Setu Babakan seluas 3,2 hektar yang letaknya di tengah area setu. Tempat tersebut nantinya akan digunakan sebagai sekolah seni, amphiteather, dan beberapa rumah khas Betawi. Saat ini, pembangunan Art Zone yang dimulai pada Desember 2013 lalu, sudah mencapai 50 persen. Ditargetkan, pada akhir 2014 pembangunan area itu selesai.

Wisata murah meriah



Hari semakin sore. Pengunjung Setu Babakan semakin ramai. Para pemancing pun mulai duduk berjejer di tepian danau, melemparkan kail-kail mereka ke permukaan air lebih jauh. Sementara, kursi-kursi yang disediakan para pedagang di tepi danau semakin penuh terisi. Selain menikmati kuliner dan bersantai, pengunjung terlihat sangat menikmati pemandangan di sekitar danau buatan itu.

Daryanto (42), sore itu datang bersama istri dan kedua anaknya. Berempat, mereka santai menikmati es kelapa muda dan soto betawi di salah satu meja, di tepi danau. “Kami sudah sering ke mari. Buat rekreasi saja. Soalnya murah,” kata pria yang berprofesi sebagai tukang ojek di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Masuk ke kawasan Setu Babakan, tidak dipungut biaya. Pengunjung hanya dikenakan uang parkir yang berkisar antara Rp2000-Rp5000 jika datang menggunakan sepeda motor atau mobil. “Paling buat jajanin anak saja. Itupun harga makanannya di sini masih terjangkau,” kata pria asli Betawi itu.

Kawasan Setu Babakan menurut Daryanto merupakan suatu tempat kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Betawi, di saat budaya betawi sudah terkikis di kampung sendiri. “Pemuda betwi jaman sekarang banyak yang sudah tidak perduli dengan budaya nenek moyang mereka. Bahkan banyak yang tidak tahu ketika ditanya, misalnya, jenis tarian khas betawi atau seni betawi. Makanya, saya ajak anak saya ke sini juga untuk mendidik mereka, menanamkan kepada mereka kebudayaan betawi sejak dini,” katanya.

Dua anak Daryanto adalah Dava (7) dan Revi (5). Pada kedatangannya di akhir pekan, Daryanto kerap mengajak kedua anaknya untuk melihat anak-anak sanggar berlatih kebudayaan betawi di panggung terbuka di kawasan itu. “Penginnya saya masukkan mereka ke sanggar, tapi pada belum mau,” katanya.

Pengunjung lainnya, Enggar (30) juga miris dengan kenyataan yang ia temui sekarang, dimana perkampungan betawi di Jakarta sudah semakin tersisih. “Kalau bisa dibilang, di sini merupakan satu-satunya kampung betawi murni yang tersisa. Kampung Betawi Condet saja sekarang sudah tidak begitu kental. Menurut saya bagus kalau Pemprov serius membangun kawasan ini sebagai pusat budaya betawi."

Ia berharap, selain melakukan pembangunan fisik, Pemprov DKI juga menggencarkan promosi kawasan Setu Babakan. “Biar warga Betawi lainnya pada tahu dan lebih bagus membawa anak-anak mereka ke sini, agar mewarisi seni dan budaya betawi. Kalau bukan kite-kite yang masih muda, siapa lagi nanti yang akan meneruskan seni dan budaya betawi,” ungkapnya.

Kawasan Wisata Setu Babakan
Jam Buka: 06.00-18.00
Tiket masuk: Gratis
Fasilitas: Pangung pertunjukan seni, tempat bermain anak, teater terbuka, wisma, kantor pengelola, galeri, pertokoan souvenir, tempat ibadah, wisata sepeda air
Akses:
Dari terminal Pasar Minggu menggunakan Kopaja 616 Jurusan Cimpedak-Blok M, turun di gerbang perkampungan Setu Babakan.
Dari Depok menggunakan angkutan umum 128 turun di depan perkampungan Setu Babakan

Baca selanjutnya ..
Kemolekan Merbabu, Negeri di Atas Awan



Jawa Tengah menawarkan pesona gunung-gunung yang Indah. Merbabu adalah salah satunya. Berada di wilayah Kabupaten Magelang, gunung dengan ketinggian 3.142 mdpl pada puncak Kenteng Songo menjadi idola bagi para pendaki karena pemandangannya yang begitu memukau.  Untuk mendaki Gunung Merbabu, terdapat beberapa jalur, di antaranya Jalur Kopeng Thekelan, Kopeng Chuntel, Selo dan Jalur Wekas.

Jalur yang paling ramai dan menjadi favorit adalah Jalur Wekas yang terletak di Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Jalur tersebut merupakan yang terpendek untuk menuju puncak dengan waktu tempuh sekitar delapan jam. Di sepanjang jalur itu juga terdapat banyak sumber mata air dengan latar pemandangan yang indah.

Pendakian melalui jalur Wekas dimulai dari basecamp di desa Wekas, desa terakhir menuju puncak Merbabu. Perjalanan menuju pos I Telaga Arum, melewati ladang-ladang sayuran milik penduduk dan hutan cemara yang cukup terbuka. Mula-mula kondisi jalan berbatu dan cukup lebar, menjelang pos I, jalan berubah menjadi tanah licin dan menanjak. Waktu yang diperlukan menuju Pos I sekitar dua jam.

Pos I merupakan sebuah dataran yang cukup lapang. Dinaungi pepohonan rindang, tempat ini kerap digunakan para pendaki untuk beristirahat. Apalagi, di sekitarnya terdapat sumber mata air yang mengalir dari pipa-pipa menuju perkampungan penduduk.

 Rute menuju Pos II lebih menantang. Jalan makin menyempit, lebarnya tidak lebih dari satu meter. Pendaki akan menyisir hutan pinus, dimana sebelah kiri jalan adalah jurang. Melalui rute ini, pendaki harus meningkatkan kewaspadaan, mengingat akan banyak ditemui jalanan lembab dan licin. Setengah jam sebelum sampai ke Pos II, pendaki akan menemui jalan di antara ilalang lebat. Kondisi jalan yang sempit terkadang membuat pendaki harus berjalan miring. Waktu tempuh dari Pos I menuju ke Pos II sekitar dua jam.

 Pos II yang memiliki daratan lapang, kerap digunakan oleh para pendaki untuk mendirikan tenda sebelum melanjutkan ke puncak Merbabu. Tempat ini mampu menampung sekitar 100 tenda dengan sumber air melimpah.

 Dari Pos II, jalur sedikit lebih terbuka. Sepanjang jalan mata sudah bisa menyaksikan pemandangan di bawah gunung. Setengah jam perjalanan dari Pos II, tanaman edelweis sudah mulai dijumpai.
 Setelah melalui jalur bebatuan dan tanah yang cukup lembab di antara tanaman edelweiss, pendaki akan sampai di persimpangan pemancar. Tempat ini menjadi titik pertemuan pendaki dari jalur Wekas dan dari jalur Thekelan dan Cunthel. Di pertigaan ini sudah tidak banyak ditemui pepohonan. Deretan gunung di sekitar Merbabu juga sudah mulai terlihat. 

 Dari persimpangan tersebut, menuju ke puncak, ambil ke arah kanan. Sekitar setengah jam perjalanan, pendaki akan sampai di di Pos Helipad. Jalur yang dilalui menuju Pos Helipad cukup terjal dan menguras tenaga. Tapi jangan kuatir, pemandangan yang luar biasa indah seolah menjadi teman saat melewati jalur yang sulit itu. Di jalur ini juga tampak kawah-kawah gunung di bawah jurang.

Dari Pos Helipad,  pendaki akan bertemu jalur dengan track curam. Jalan bebatuan dengan kemiringan mencapai harus ditaklukkan untuk mencapai sebuah persimpangan. Dari persimpangan, jika mengambil ke kiri pendaki akan menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dengan waktu tempuh 30 menit dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo (Gunung Kenteng Songo) dengan waktu tempuh sekitar 45 menit.

 Pendaki biasanya lebih dulu naik ke puncak Syarif sebelum naik ke puncak Kenteng Songo. Dari dua puncak ini, pemandangan menakjubkan bisa dijumpai. Di sebelah utara, berdiri kokoh gunung Sumbing dan Sindoro. Juga gunung-gunung lain seperti Gunung Andong, Gunung Telomoyo, Gunung Ungaran dan telaga Rawapening yang indah.

 Di sebelah barat, utamanya dari puncak Kenteng Songo, dengan jelas bisa disaksikan keperkasaan Gunung Merapi yang pada puncaknya terus mengepulkan asap putih. Sedangkan di arah timur, tampak Gunung Lawu meski jaraknya cukup jauh. Sensasi yang paling dahsyat ketika berada di dua puncak ini, pendaki akan merasa berada di negeri atas awan. Gulungan awan tebal tampak seperti ombak yang melaju cepat, berada beberapa puluh meter di bawah puncak Kenteng Songo.



Cara tempuh

Dari Jakarta, menuju ke Desa Wekas tidak cukup sulit. Jika menggunakan transportasi kereta api, bisa menggunakan Kereta Api Tawang Jaya jurusan Stasiun Pasar Senen-Stasiun Poncol, dengan tiket hanya Rp40 ribu. Dari Stasiun Poncol, perjalanan dilanjutkan menuju ke Terminal Terboyo menggunakan bus kota.

Dari Terminal Terboyo, pilih bus jurusan Semarang-Solo dan turun di Salatiga, tepatnya di terminal bayangan Pasar Sapi.Untuk menuju ke Desa Wekas bisa menggunakan bus m Jurusan Kopeng - Magelang turun di Kaponan, yakni sekitar 9 Km dari Kopeng, tepatnya di depan gapura Desa Wekas.
Dari Kaponan pendaki berjalan kaki melewati jalanan berbatu sejauh sekitar 3 Km menuju pos Pendakian. Jika ingin lebih praktis, dari Pasar Sapi bisa menyewa mobil menuju ke starting point pendakian di Desa Wekas. Tarifnya, antara Rp200-Rp250 ribu

Baca selanjutnya ..
Mengintip Kaum Waria Sosialita di Jakarta


Waktu sudah menunjuk pukul sembilan malam. Puluhan tamu mulai memadati ruang utama di sebuah rumah besar yang telah disulap menjadi arena pesta. Penampilan mereka anggun dan feminim. Gaun-gaun pesta glamour berpadu indah dengan tas-tas merk terkenal dan perhiasan berharga ratusan juta. Beberapa orang duduk-duduk di sofa. Sebagian lagi tampak mengobrol sambil berdiri. Beberapa pelayan hilir mudik menawarkan aneka desert dan wine kepada tamu. Acara utama sudah hampir dimulai. Tapi ada beberapa rekan mereka yang belum datang.

Di tengah suasana akrab itu, seorang mengumumkan bahwa acara utama akan segera dimulai. Tamu-tamu diminta melihat ke sebuah meja dan telah dipersiapkan. Di atas meja itu, sudah ada sebuah toples yang berisi lintingan kertas. Seseorang memastikan seluruh tamu melihat prosesi pengambilan lintingan kertas. Dan.. dibacakanlah nama orang yang beruntung mendapatkan arisan senilai Rp500 juta. Para tamu bersorak dan segera memberi selamat kepada si pemenang arisan.

Itu adalah sekelumit gambaran aktifitas yang dilakukan sekumpulan waria atau shemale highclass di Jakarta. Arisan dengan iuran mencapai puluhan juta atau menggelar pesta-pesta private bertaraf mewah seolah sudah menjadi hal biasa. Arisan atau pesta biasanya dilakukan setiap satu bulan. Tempatnya, di salah satu rumah anggota. Kadang-kadang pesta juga berlangsung di sebuah villa mewah atau hotel berbintang. Biaya besar yang dikeluarkan, tak menjadi masalah. Mereka puas dan menikmati setiap acara pertemuan.

Para shemale highclass, menurut seorang sumber di kalangan waria, berasal dari kalangan orang kaya dengan berbagai profesi. Dari pengusaha, model, anak konglomerat, simpanan pengusaha kaya sampai shemale bayaran yang kerap beroperasi lintas negara. Uniknya, dalam perkumpulan itu, tidak membedakan antara shemale biasa dengan shemale yang telah mengubah kelaminnya menjadi perempuan atau transgender.

Tak terekspos

Di Jakarta, memang belum banyak yang tahu keberadaan waria dan transgender sosialita ini. Bicara soal waria, pikiran orang akan lebih tertuju ke para waria yang kerap mangkal di beberapa lokasi jalanan atau waria berpenampilan lusuh yang berprofesi menjadi pengamen keliling. Padahal, kenyataannya, kalangan waria papan atas benar-benar ada.

Tempat nongkrong waria dan transgender highclass tentu berbeda dengan waria biasa. Kadang mereka menggelar party di kelab-kelab malam ternama, sebut saja Exodus, X2, Blowfish, Colloseum dan kelab malam ekslusif lain. Pesta satu malam bisa menghabiskan uang hingga puluhan juta rupiah. Terkadang, waria dan transgender dalam jumlah lebih kecil menghabiskan waktu bersantai di café-café di bilangan Kemang, Kebayoran Bayu atau di kawasan Senayan. Sebagian lagi memilih membuat janji berkumpul ke luar negeri hanya untuk berbelanja bersama.

Sebenarnya kehidupan waria dan transgender highclass tidak selalu tertutup seperti bayangan banyak orang. Hanya saja, menurut sumber itu, masyarakat jarang mengenali waria dan transgender dikarenakan bentuk fisik mereka yang sudah benar-benar mirip dengan perempuan pada umumnya. Bahkan, mungkin lebih cantik dan elegan.

“Di mal-mal, café atau kelab malam waria dan transgender papan atas ini sebenarnya banyak. Mungkin karena masyarakat banyak yang tidak sadar. Karena mereka memiliki wajah cantik dan bentuk tubuh seperti perempuan umumnya. Bahkan tidak sedikit lelaki yang menggoda dan berniat berkenalan berkat kecantikan mereka,” kata sumber itu.

ekslusif

Dalam pergaulan, kumpulan waria atau transgender sosialita benar-benar menjaga privasi mereka. Tidak sembarang waria pula boleh bergabung dengan kumpulan itu. Karena gaya hidup mereka yang cenderung mewah, yang sulit diikuti oleh waria lain yang hidupnya tidak seberuntung mereka.

 Yulianus Rettoblaut atau biasa disapa Mami Yuli, Ketua Forum Waria Indonesia kepada saya membenarkan adanya komunitas semacam itu. Ia bahkan beberapa kali kerap diundang dalam sebuah pesta private yang digelar para shemale highclass. Di sebuah malam saat mendatangi undangan pesta,  disebutkan Mami Yuli, deretan mobil mewah berharga ratusan hingga miliaran rupiah tampak mentereng terparkir di sebuah rumah mewah milik salah satu anggota. Pesta berlangsung secara elegan hingga larut malam. Acara intinya, arisan. Tapi pada dasarnya pertemuan itu digunakan parashemale dan transgender untuk saling merekatkan hubungan.

“Datang ke pestanya shemale dan transgender highclass, orang awam tidak akan pernah menyangka kalau mereka adalah waria. Wajahnya cantik-cantik sekali. Kulitnya sangat halus dan terawat. Penampilan mereka melebihi artis.” Bahkan, ruang lingkup pergaulan para shemale dan transgender kelas atas juga semakin luas. Banyak dari mereka yang juga tergabung dalam kelompok arisan sosialita perempuan-perempuan kaya.

Di Jakarta, ada banyak shemale dan transgender highclass yang membuat kelompok terpisah. Ada yang khusus kalanganshemale, transgender atau gabungan keduanya. Wayan Lucky Diah Pithaloka, seorang transgender bahkan menyebut, ada kelompok transgender yang begitu selektif memilih pergaulan. Mereka hanya mau berteman dengan kaum transgenderhighclass. Biasanya, kelompok itu hanya terdiri dari beberapa orang saja.

“Ada transgender yang merasa dirinya ekslusif dan hanya bergaul dengan kalangan atas. Tapi ada juga yang masih perduli dengan kaum waria yang hidupnya masih susah, jadi pengamen atau pekerja seks komersial di jalan-jalan. Yakni dengan membangun usaha dengan mempekerjakan para waria itu,” katanya.

Lucky tidak memungkiri gaya hidup sebagian transgender cukup mewah . Ia sendiri pernah berada dalam lingkungan tersebut. Dalam setiap pertemuan, kerap dijadikan sebagai ajang adu fashion atau perhiasan-perhiasan mewah.  “Sama dengan kaum sosialita lainnya, mereka mengedepankan gaya hidup kelas atas. Busana serta aksesori yang dikenakan harganya mahal.”

Seperti misalnya tas dengan merk berkelas Hermes, Fendi Selleria, Louis Vuitton, Lana Marks Cleopatra dan sebagainya. Begitu juga dengan sepatu, jam tangan atau perhiasan yang melekat pada tubuh mereka yang serba branded

8000 Waria di Jakarta Butuh Kerja

Rambutnya senantiasa ia kibaskan, berbarengan dengan gerakan badan centil ketika ada kendaraan yang melintas. Berulang kali ia melakukan itu, selama beberapa jam. Tetapi, malam itu nampaknya ia belum mujur. Meskipun sudah berdandan menor dan mengeluarkan segenap daya rayuan, tidak satupun ada kendaraan yang berhenti dan menghampirinya. Sampai pukul 03.00, ia merasa lelah.
Sambil melipat kakinya, ia duduk di sebuah besi jembatan, di tempat mangkalnya di bilangan Kalibata, Jakarta Selatan. Diambilnya sebuah smartphone dari dalam tas berwarna hitam. Sekadar mengisi kesibukan, ia bermain-main dengan smartphone miliknya itu. “Sepi seperti ini sudah biasa. kecewa sih iya, tapi harus gimana lagi,” katanya.

Sebut saja namanya Vio. Sudah sekitar 10 tahun ia menggeluti kerasnya dunia malam, berpindah-pindah tempat dari satu tempat ke tempat lainnya sebagai waria yang menjajakan diri. Ia melakukan itu demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Rasa malu sudah ia singkap jauh-jauh hari. Caci maki bahkan kekerasan fisik yang kerap ia terima, seolah sudah menjadi pil pahit yang harus ia telan sebagai resiko jalan hidup yang dia pilih.

Tetapi usia Ivo kini sudah tak lagi muda, 38 tahun. Masa gemilangnya sudah lewat. Ia sudah kesulitan mendapatkan pelanggan. Apalagi, ia sadar bahwa ia bukanlah waria cantik. “Sekarang cuma bisa dapat satu atau dua orang saja semalam. Kadang malah nggak dapat satupun. Sudah capek-capek dandan dan tebar pesona di pinggir jalan, pulang-pulang sambil gigit jari,” kata waria asli Jakarta ini.

Ivo mengaku sebenarnya dia lelah menjalani profesinya sekarang. Selama menjalani hidupnya, ia gusar. Tapi selama bertahun-tahun berpikir dan merenung, toh dia tidak bisa berbuat banyak terhadap kondisinya. Ia tetaplah merasa sebagai perempuan yang terjebak pada tubuh lelaki. Semakin besar usaha menemukan jatidirinya, semakin besar pula kebingungan yang dia rasakan.

“Aku ini sebenarnya sudah capek seperti ini. Mangkal-mangkal begini. Cuma ngarepin uang puluhan ribu saja tapi hatiku tersiksa. Kalau bukan karena butuh makan dan biayain adik aku kuliah, aku sudah berhenti kerja seperti ini,” katanya.

Ia meyakinkan dalam waktu dekat akan segera berhenti dan menjau dari dunia prostitusi yang telah digelutinya selama puluhan tahun. Ia bercita-cita mendirikan usaha salon, seperti yang dilakukan banyak temannya sesame waria. “rencananya sih begitu. Ini tinggal nunggu rumah orangtua saya laku. Lumayan, saya kan dapat bagian. Uangnya mau saya pakai buat usaha salon biar nggak mangkal-mangkal lagi seperti ini,” katanya.

7 Juta waria
Kisah Vio merupakan salah satu potret kaum waria yang terpaksa menjajakan dirinya untuk mencukupi kebutuhan hidup. Selain dia, terdapat ratusan ribu bahkan jutaan waria lain yang bernsaib sama. Seperti yang diungkapkan Yulianus Rettoblaut selaku Ketua Forum Waria Indonesia, pada survey 2008, di Indonesia terdapat sekitar tujuh juta kaum waria. Sementara, khusus di Jakarta terdapat sekitar 8000 waria.

Banyak waria kemudian menjadi Pekerja Seks Komersial atau pengamen jalanan, kata Yulianus atau yang karib disapa Mami Yuli lebih karena terdesak kebutuhan hidup. “Kenyataannya banyak waria yang diusir dari rumah dan mereka susah menadapatkan pekerjaan. Mereka akhirnya pergi ke jalan demi bertahan hidup. Mereka tidak punya pilihan lain,” kata Mami Yuli.

Jakarta, kata Mami Yuli, menjadi kota tujuan utama bagi waria yang terasing dari kehidupan keluarganya. Itu kenapa jumlah waria di Jakarta terus mengalami pertumbuhan setiap tahun, meskipun beberapa organisasi atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) secara rutin melakukan pelatihan kerja dan menyalurkannya.

“Dari 8000 waria, sekitar 3000 di antaranya sudah tertangani. Maksudnya, mereka sudah mendapatkan pelatihan dan bekerja di beberapa bidang usaha, seperti salon, pembuatan kue dan sebagainya.”

“Masalahnya, setiap bulan banyak waria dari daerah yang datang dan mereka terpaksa menjadi PSK karena sulit mendapat pekerjaan. Itu menjadi problem bagi kami untuk mengurangi jumlah waria PSK di Jakarta,” imbuhnya.

Dari mana bantuan itu datang? Menurut Mami Yuli, setiap tahun Kementrian Sosial (Kemensos) rutin memberikan bantuan meskipun jumlahnya tidak terlalu besar, Rp98 juta. Bantuan akan diberikan hingga tahun 2020. “Bantuan yang diberikan memang untuk jangka pendek. Bentuknya, pelatihan kerja dan pemberian modal. Tapi dengan uang sejumlah itu memang belum bisa menyentuh kaum waria lebih banyak,” jelasnya.

Dengan bantuan yang terbatas tersebut, Mami Yuli berusaha mencari jalan lain untuk mengangkat para waria yang masih berada di jalanan. Salah satunya dengan melobi para waria atau transgender yang telah sukses dan meminta kepada mereka agar merekrut kaum waria sebagai tenaga kerja.
“Syukurnya ada beberapa waria yang perduli. Mereka membuat usaha, misalnya salon, dan member pelatihan serta pekerjaan kepada waria yang sebelumnya mangkal di jalanan. Itu bentuk upaya kami agar jumlah waria PSK berkurang. Mereka juga butuh pekerjaan yang layak,” katanya.

Solidaritas
Wayan Lucky Diah Pithaloka menjadi salah satu transgender yang perduli dengan nasib kaum waria. Ia bahkan memutuskan pulang dari Prancis ke Indonesia karena prihatin terhadap banyaknya waria di Jakarta yang bertahan hidup dengan menjadi PSK. “Meskipun sudah berganti kelamin dan kini ber KTP perempuan, saya ingat siapa saya dulu. Makanya, saya mencoba perduli,” katanya.

Di Jakarta, ia mendirikan dua usaha salon yakni di Jalan Tambak Raya No45 Jakarta Pusat dan di daerah Matraman. Sebanyak 15 waria menjadi karyawannya.

“Tapi saya persilahkan bahkan ajak waria lain yang masih sering di jalanan untuk belajar di salon saya. Mudah-mudahan saja ke depan saya bisa membuka usaha-usaha lain agar bisa menampung waria-waria yang belum bingung mencari kerja,” ujarnya. 

Baca selanjutnya ..
Label: 3 komentar |
Seniman Korea Unjuk Gigi di Indonesia



Puluhan seniman asal Korea Selatan menggelar pameran bersama di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat. Pameran mengambil tema Empty Fullness : Materialitas dan Spiritualitas dalam seni modern Korea, diselenggarakan oleh Korean Cultural Center Indonesia dan Galeri Nasional Indonesi beserta Korea Arts Management Service, 9 Januari 2015 hingga 20 Januari 2015.

Dengan menonjolkan keindahan lukisan monokrom, yang adalah poros besar dalam seni kontemporer Korea, dan seni moderat yang berperan sebagai poros dasar dari budaya Korea, pameran ini diprogram untuk mengenalkan kebudayaan cendekiawan Korea yang bisa dinilai sederhana namun anggun, berbeda dari seni minimalis Barat. Melalui pengosongan secara material, 52 karya yang terdiri dari 47 lukisan dan 5 keramik yang berhasil menunjukkan keindahan ‘Guci Bulan’, yang memiliki dunia spiritual berlimpah.

President Korea Arts Management, Jung Jae-Wal, mengatakan pameran ini diadakan untuk memperkenalkan koleksi luas Seni Kontemporer Korea, dan memungkinkan penonton untuk menangkap intisari seni Korea pada setiap karya yang ditampilkan.

“Sebagai bagian dari ‘Program Bisnis Pusat Kebudayaan Asing’ yang ditujukan untuk menempatkan diri sebagai salah satu poros dari budaya universal, pameran ini dimulai dari Shanghai, Beijing, Jerman, Hungaria dan negara lain di Eropa dan terakhir digelar di Galeri Nasional Indonesia untuk menghiasi perjalanan 1 tahun dari pameran ini.”

Sebanyak 16 seniman turut andil dalam pameran ini, yakni Kwon Young-Woo, Yoon Hyung-Geun, Jung Sang-Hwa, Chung Chang-Sup, dan Ha Chong-Hyun. Mereka adalah para pelukis yang merupakan andalan Korea Seni Kontemporer. Kemudian ada beberapa seniman yang terkenal dengan karya keramiknya yaitu Lee Gee-Jo, Kim Yik-Yung, Kwon Dae-Sup, Lee Kang-Hyo, dan Wen Ping.

Berkarakter unik

Tidak mudah untuk menjelaskan asal mula seni rupa kontemporer Korea. Tidak seperti karakteristik dan keaslian bentuk seni rupa dari Asia, Amerika Latin, dan bagian dari Timur Tengah, yang lebih mudah untuk didefinisikan.

Menurut Chief Curator Chung Joon-Mo, menilai karakteristik seni rupa kontemporer Korea ibarat menyentuh seekor gajah dengan mata tertutup, karena keberagaman dan kompleksitas terminologinya ketika membicarakan tentang seni rupa negara-negara non-Eropa dalam memaknai ‘kontemporer’, yang mengindikasikan sebuah konsep waktu.

Hal yang sama diterapkan dalam mendefenisikan ‘Reduksionisme Korea’, ‘Dansaekhwehwa (lukisan monokrom), ‘Dansaekhwa’ dan ‘Danhwa’, yang merupakan bentuk representatif dari seni rupa kontemporer Korea.

“Dari segi style, lukisan monokrom di Korea mirip dengan lukisan minimalis di Amerika dan Eropa pada era 1960-an. Karena itu, lukisan monokrom Korea tampak mengikuti konsep minimalisme yang menjangkau realitas murni dengan meminimalkan teknik dan dramatisasi Barat serta menyatukan aktualitas dengan karya seni rupa sebagai esensi dari objek,” jelasnya.

Meskipun seni rupa Korea di tahun 1970-an dipengaruhi oleh arus globalisasi dan internalisasi, kata dia, merupakan kesalahan yang serius jika menganggap konten lukisan monokrom Korea serupa dengan minimalisme Barat jika hanya dengan melihat kemiripan gayanya.

“Selain itu, mengkategorisasikan karya monokrom Korea generasi pertama dan generasi kedua sebagai satu kecenderungan hanya karena kesamaan bentuknya juga merupakan kesalahan yang harus dihindari.”
Lukisan monokrom generasi pertama memiliki basis yang kuat pada tradisi Konfusius dan semangat Seonbi (lelaki terpelajar), sedangkan generasi kedua lebih banyak terpengaruh oleh modernisme. Bagaimana pun, karya-karya kedua generasi tersebut sama-sama berusaha untuk merestorasi seni rupa tradisional dan menyatu dengan alam, yang sulit dilakukan selama masa kolonial.

Terutama ada ciri khas yang membedakan lukisan Korea dengan minimalisme Barat seperti kerandoman dan abstraksi yang tidak terencana. Selain itu, lukisan Korea menyajikan aspek umum dari transformasi perspektif tradisional terhadap alam dan warisan tradisi serta transisi kreatifnya.

Meskipun lukisan Korea memiliki beragam aspek seperti aktivisme, strukturalisasi permukaan datar, netralisasi, hubungan, originalitas, spiritualitas, identifikasi, integrasi materialitas dan lukisan, serta berdasarkan kesederhanaan dan berpegang teguh pada tradisi Korea, kecenderungan tersebut dikelompokkan sebagai lukisan monokrom Korea terlepas dari karakteristik individunya

Menurut Chung Joon-Mo, pameran ini bertujuan menginterpretasikan kembali lukisan monokrom Korea terutama terfokus pada strukturalisasi permukaan datar, netralisasi, dan penyatuan materialitas dan lukisan. Terutama ‘Dalhangari’ (guci bulan), salah satu keramik tradisional Korea yang memberikan petunjuk untuk ‘membaca’ penyatuan karakteristik gaya dan konten atau perbedaan di antara keduanya.

Tubuh dari Dalhangari, juga seperti yang ditampilkan dalam pameran ini, tampak seksi dan bentuk bundarnya sangat halus. Karena sulitnya teknik pembentukan bagian tengah dari tubuh utama tersebut, bagian atas dan bawahnya dibuat terpisah dan kemudian disatukan.
“Dalhangari adalah salah satu dari utilitas rumah tangga yang paling jauh yang diproduksi bersama dengan hidangan pada abad ke-19. Ada setidaknya satu atau dua botol tersebut di setiap rumah tangga, terlepas dari kelas mereka dankekayaan, apakah mereka dari keluarga bangsawan, atau petani.”

Karena guci tanah liat yang masih basah tersebut dikeringkan kemudian dipanggang dalam oven, bentuknya menjadi terdistorsi (terpiuh) dan bertransformasi menjadi karakteristiknya sendiri.
“Oleh karena itu, harapan pengunjung untuk ‘membaca’ kekuatan tersembunyi atau memaknai dibalik ‘lukisan monokrom’ akan memberi makna tersendiri dari guci tersebut. Bentuk itu sendiri seringkali dimengerti sebagai aspek lain dari konten atau sebagai sebuah cara. Bagaimanapun, lukisan monokrom Korea masih eksis melampaui atau sebelum sebuah bentuk ketimbang bentuk itu sendiri sebagai sebuah konten

Baca selanjutnya ..
Powered By Blogger

  • Foto saya
    DKI Jakarta
    Wartawan di harian Warta Kota, Kompas Gramedia. Follow @FeryantoHadi

    Total Tayangan Halaman

    Pengikut Blog


    waktu jualah yang akan menghentikan pengembaraan singkat ini