Menikmati Karya-Karya Sang Legenda di Museum Basoeki Abdullah


feryanto hadi



Siapa yang tidak kenal dengan Basoeki Abdullah, sang maestro lukis yang dimiliki Indonesia. Goresan tangannya, kini menjadi mahakarya yang diperbincangkan banyak orang, tidak hanya di Indonesia saja, melainkan di Dunia.

Belum lama ini, saya berkesempatan untuk menikmati dan menghikmati karya-karya pelukis fenomenal ini, di Museum Basoeki Abdullah di Jalan Keuangan Raya No. 19 Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Awalnya, bangunan yang kini menjadi museum di bawah Kementrian Pendidikan dan Kebudayan ini, adalah sebuah rumah pribadi Basoeki Abdullah yang kemudian dirubah menjadi sebuah museum.

Menempati bekas rumah hunian, museum ini terlihat sederhana, tidak terlalu besar. Tapi jangan salah, jika masuk ke dalamnya, kita akan melihat deretan lukisan mahakarya yang masing-masing mempunyai cerita sendiri-sendiri. Tidak hanya koleksi lukis, masuk ke dalammuseum ini kita juga akan melihat benda-benda koleksi pribadi milik sang maestro, termasuk satu set ruang tidur yang dulu dipergunakan Basoeki Abdullah untuk beristirahat, semasa hidupnya. Di ruangan ini, penataan barang-barang masih sesuai dengan aslinya.

Ruang pameran di museum ini, terbagi menjadi tiga bagian. Pertama, ruang pengenalan yang berada di lantai 1. Di ruangan ini, dijelaskan tentang riwayat hidup basoeki Abdullah, berupa teks informasi yang didukung dengan foto-foto dokumentasi kegiatan beliau sebagai seorang penulis, piagam penghargaan dan beberapa koleksi koleksi pribadi milik almarhum Basoeki Abdullah.

Ruang kedua, dinamakan ruang memorial Basoeki Abdullah. Di ruangan ini, disajikan koleksi benda-benda yang berkaitan dengan ruang tidur almarhum semasa hidupnya seperti tempat tidur, lemari, kursi, meja kecil, lampu senjata dan sebagainya. Penataan koleksi benda-benda tersebut disesuaikan dengan keadaan aslinya.

Ruangan ketiga, yakni ruang utama atau ruang pameran lukisan yang berada di lantai dua bangunan museum. Ruangan ini, terbagi ke dalam beberapa tema yaitu tema pemandangan alam, tema manusia, protret dan model dan tema abstrak. Di ruangan ini, Anda akan menikmati beragam koleksi karya lukis Basoeki Abdullah yang begitu fenomenal itu. 

Ruangan lain adalah Audiovisual, yakni ruangan yang menampilkan aktifitas Basoeki Abdullah selama hidup. Kegiatan tersebut diantaranya saat melukis, saat wawancara dengan wartawan dan aktifitas lainnya semasa hidup terekam menjadi satu gambar yang menarik untuk dilihat.di bagian belakang bangunan juga terdapat ruangan serba guna, yang kerap digunakan oleh pengelola museum untuk menggelar kegiatan-kegiatan seperti workshop, diskusi dan sebagainya.

Saat ini, Museum Basoeki Abdullah memiliki 123 koleksi lukisan yang terdiri dari 112 buah lukisan asli dan 11 buah lukisan reproduksi. Selain itu, terdapat 720 buah benda seni yang terdiri dari topeng, wayang, senjata serta jas pelukis yang kerap dia gunakan semasa hidupnya. Terdapat pula perpustakaan dengan koleksi 3000an buku dari berbagai bahasa milik Basoeki Abdullah. 

Sejarah

Museum Basoeki Abdullah, kini menjadi salah satu tempat favorit bagi para pecinta seni rupa, khususnya lukisan, untuk menengok secara langsung karya agung dari sang maestro lukis Indonesia, Basoeki Abdullah. Di tempat ini, terdapat ratusan lukisan karya Basoeki Abdullah, yang tidak hanya terkenal di dalam negeri, melainkan punya nama besar di luar Indonesia.

Dulunya, bangunan yang kini digunakan sebagai museum ini merupakan kediaman pribadi Basoeki Abdullah. Berubahnya rumah pribadi menjadi museum ini, tak lepas dari keinginan pribadi seorang Basoeki Abdullah. Sebelum meninggal pada 5 November 1993, pelukis kelahiran Solo, Jawa Tengah ini, meninggal dunia. Sebelum meninggal, beliau berwasiat agar lukisan koleksi pribadinya yang berupa barang atau benda seni  seperti patung, wayang, topeng dsb, beserta rumah kediamannya dihibahkan kepada pemerintah Indonesia.

Penyerahan atau hibah ini dilakukan oleh Saraswati Kowenhouven, Cicilia Sidhawati dan Nataya Narerat sebagai ahli waris pada tanggal 2 dan 5 September 1995 kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang diwakili oleh A. Irvan Masduki, SH (Kepala Biro Humas dan Hukum) atas nama pemerintah Republik Indonesia.

Baru pada tahun 1998 rumah ini diserahkan oleh Pemerintah Ri melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktur Permuseuman. Bangunan rumah berlantai dua seluas 600 m2 dengan luas tanah 440 m2. Rumah ini kemudian direnovasi agar bisa difungsikan sebagai museum. Pada tanggal 25 September 2001, Museum Basoeki Abdullah diresmikan oleh Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata Drs. I Gede Ardika.

Sedangkan untuk barang/benda seni milik pribadi almarhum Basoeki Abdullah ada berbagai macam seperti koleksi patung, wayang, topeng, cinderamata, buku-buku dan sebagainya. Koleksi buku-buku pribadi jumlahnya mencapai 3000an lebih yang berisi tentang buku-buku tentang bangsa-bangsa di dunia, tokoh-tokoh, pemandangan alam, flora fauna, majalah dan sebagainya. Buku-buku tersebut sekarang berada di ruang perpustakaan Museum Basoeki Abdullah.

Meski fungsinya sudah berubah menjadi museum, beberapa ruangan masih dipertahankan orisinalitasnya.  Seperti misalnya, yang bisa disaksikan di sebuah ruangan bernama ruang memorial Basoeki Abdullah. Di ruang tidur atau ruang pribadi almarhum Basoeki Abdullah ini, terdapat koleksi benda-benda yang berhubungan dengan Basoeki Abdullah semasa hidupnya, seperti tempat tidur, lemari, kursi, meja kecil, lampu senjata dan sebagainya. Penataan koleksi benda-benda tersebut disesuaikan dengan keadaan aslinya, termasuk beberapa benda yang terdapat di dalam kamar mandi.

Lukisan Mahatma Ghandi, Goresan Pertama Basoeki 

Usai membeli karcis seharga Rp. 2000,  saya pun segera melangkah menuju ambang pintu. Beruntung Eka Yulianty, seorang pemandu Museum Basoeki Abdullah bersedia menemani saya.

Di ruangan ini lantai satu, beberapa pemandangan menarik segera saya jumpai. Di sisi kanan ruangan, sebuah lukisan mantan presiden Suharto berukuran besar segera menghiasi pandangan. Kami sejenak melihat lukisan ini secara dekat. Sangat mirip, bahkan kalau boleh dibilang, lukisan ini lebih hidup daripada sekedar foto Suharto yang selama ini kami jumpai.

“Itulah salah satu keunggulan Basoeki Abdullah. Hasil lukisan potret beliau dikenal lebih bagus daripada obyek aslinya. Itu kenapa banyak negarawan yang mengundang secara khusus beliau untuk datang ke negaranya, mereka meminta Pak Basoeki untuk melukisnya,” Eka selaku pemandu kami menjelaskan. 

Berada di sekat lukisan Suharto, terdapat dua buah lukisan yang berukuran kecil. Eka segera menunjuk salah satu lukisan yang berada di dalam kaca etalase. Sebuah lukisan berjudul Mahatma Ghandi dengan ukuran 21 cm x 28 cm yang dibuat menggunakan pensil kertas. Menurut Eka, karya tersebut merupakan salah satu lukisan yang penting dalam kiprah Basoeki Abdullah hingga menjadi pelukis ternama. Lukisan tersebut, ternyata adalah lukisan pertama yang dibuat oleh Basoeki Abdullah pada saat ia berusia 10 tahun atau pada tahun 1925. Untuk ukuran anak usia semuda itu, lukisan Mahatma Ghandi tersebut sudah terbilang luar biasa.

Di lantai satu museum ini, lebih banyak menceritakan tentang riwayat hidup Basoeki Abdullah, berupa teks informasi yang didukung dengan foto-foto dokumentasi kegiatan beliau sebagai seorang pelukis, piagam penghargaan dan beberapa koleksi koleksi pribadi milik almarhum Basoeki Abdullah. Di sebuah sudut ruangan juga terdapat beberapa foto-foto dokumentasi saat beliau mengadakan tunggal di beberapa tempat. Juga terdapat foto-foto kunjungan beliau ke berbagai negara seperti Brunai, Thailand dan sebagainya.

Sedangkan untuk benda seni milik pribadi almarhum Basoeki Abdullah ada berbagai macam seperti koleksi patung, wayang, topeng, cinderamata, dan sebagainya. Koleksi-koleksi seni ini menempati sebuah ruangan di lantai satu museum. Nampak beberapa hiasan berbentuk patung kecil, juga terdapat beberapa koleksi wayang. “Meskipun Pak Basoeki sudah menjelajah ke berbagai negara di dunia, namun dia tetap mencintai seni tradisional, salah satu diantaranya adalah wayang, karena dia juga orang Jawa,” jelas Eka.

Koleksi buku-buku pribadi jumlahnya mencapai 3000an lebih yang berisi tentang buku-buku tentang bangsa-bangsa di dunia, tokoh-tokoh, pemandangan alam, flora fauna, majalah dan sebagainya. Buku-buku tersebut sekarang berada di ruang perpustakaan Museum Basoeki Abdullah dan beberapa diantaranya dipamerkan di sebuah etalase yang ada di lantai satu museum.

Memasuki lantai dua Musem Basoeki Abdullah, terdapat beberapa ruangan dengan berbagai tema. Di ruangan paling kiri, menampilkan lukisan-lukisan karya Basoeki Abdullah dengan tema potret. Beberapa lukisan tokoh dunia karya sang maestro nampak di sini. Misalnya lukisan Lee Kwan Yew yang dikenal sebagai bapaknya Singapura,  lukisan raja Fadh, dan sebagainya. adanya lukisan para tokoh ternama dari luar negeri ini, juga sebagai bukti bahwa Basoeki Abdullah dikenal oleh para pemimpin negara di beberapa benua. Bahkan, tidak sedikit pula pemimpin negara yang mengundang Basoeki Abdullah secara khusus untuk menjadi pelukis istana.
Selain itu, lukisan para tokoh-tokoh fenomenal lokal juga ada di ruangan ini, diantaranya adalah lukisan R.A Kartini dan lukisan Sultan hamengku Buwono IX beserta istri.

Beberapa hal yang patut diingat adalah bahwa di tempat ini pengunjung dilarang untuk mengambil gambar atau memotret lukisan dari jarak dekat. Menurut Eka Yulianty, pemandu yang menemani kami, hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas lukisan. “Media lukisan ini sudah berusia lama.  Jadi nanti takut merusak lukisan, apalagi jika difoto menggunaan flash,” kata Eka.

“Sebenarnya larangan untuk memotret ini juga dilakukan untuk mencegah terjadinya peniruan lukisan. Seperti kita tahu, jaman sekarang kan banyak sekali lukisan palsu yang beredar, yang diakui karya para pelukis terkenal, termasuk Pak Basoeki,” Eka menambahkan. Namun, pengunjung tetap boleh memotret asalkan dari jarak yang jauh.

Beranjak ke ruangan lain, yakni ruangan tengah di lantai dua Museum Basoeki Abdullah, kita dapat menyaksikan beberapa lukisan dengan tema pemandangan alam dan tema yang lain. Beberapa karya terkenal nampak di sini, termasuk sebuah lukisan yang goresan pertamanya dilakukan oleh Ibu Tien Suharto, istri mendiang mantan presiden Suharto. Lukisan ini, merupakan lukisan terakhir yang dibuat oleh Basoeki Abdullah.

Di ruang lainnya, beberapa karya lukis bernilai seni tinggi bisa kita jumpai. Ada dua lukisan yang menggambarkan keadaan di gurun pasir, lukisan ini cukup unik. Selain itu, lukisan berupa simbol-simbol pancasila juga terdapat pada ruangan ini. Juga, pada ruangan ini, terdapat lukisan kedua yang dilukis oleh Basoeki Abdullah, setelah lukisan pertamanya berjudul Mahatma Gandhi. Lukisan ini juga dibuat Basoeki Abdullah ketika usianya masih relatif muda, berjudul setangkai bunga dan daunnya. Beberapa lukisan lain, di ruang pameran ini, mengarah pada aliran impresionisme dan abstrak.

Tertarik datang ke tempat ini? Banyak transportasi yang bisa Anda gunakan untuk sampai di Museum Basoeki Abdullah. Jika Anda dari arah Blok M, Anda bisa naik metromini jurusan Pondok labu-Blok M, bisa turun sebelum perempatan besar RSUP Fatmawati. Letak Jalan Keuangan berada di seberang jalan dan Anda bisa berjalan kaki karena jarak museum tidak terlalu jauh dari Jalan Raya RS. Fatmawati.

Alamat:

Jalan Keuangan Raya No. 19 Cilandak Barat, Jakarta Selatan
Telepon (021) 7698926

Jam kunjung:

Selasa – Jumat: pukul 08.00 – 16.00 WIB

Sabtu-Minggu: pukul 08.00 – 15.00 WIB
Senin/hari libur nasional tutup.

0 Responses

Posting Komentar

terimakasih atas atensinya...

Powered By Blogger

  • Foto saya
    DKI Jakarta
    Wartawan di harian Warta Kota, Kompas Gramedia. Follow @FeryantoHadi

    Total Tayangan Halaman

    Pengikut Blog


    waktu jualah yang akan menghentikan pengembaraan singkat ini