Menggapai Puncak Cikuray




Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyimpan pesona alam yang begitu mahal. Selain keberadaan pantai-pantai yang masih perawan di sisi Garut bagian selatan, beberapa gunung menjadi magnet bagi para pendaki. Sebut saja Papandayan dan Cikuray. Setiap pekan, pendaki dari berbagai daerah, tidak terkecuali dari Jakarta, datang untuk menaklukkan dua gunung itu.

Akhir pekan lalu menjadi salah satu moment mengesankan bagi saya. Bagaimana tidak, sebuah gunung dengan track pendakian yang cukup terjal bisa saya taklukkan. Meraih puncak Cikuray,  sebuah hadiah yang begitu istimewa. Ini sekaligus menjadi pengalaman pertama bagi saya mendaki gunung. Berkesan dan tidak akan pernah terlupakan.

Perjalanan dimulai dari Terminal Kampung Rambutan. Saya bersama dua rekan lain, Wisnu dan Iwan, kami memilih berangkat pada malam hari, tepatnya pada Jumat malam. Menggunakan bus AC Ekonomi, butuh waktu sekitar empat jam untuk sampai di terminal Guntur, Garut.  Jam menunjuk pukul 01.30 ketika para penumpang turun di terminal. Suasana di Terminal Guntur malam itu sudah ramai oleh para pendaki dari Jakarta. Sembari menunggu pagi, para pendaki dari Jakarta berkumpul di sebuah masjid yang berada tidak jauh dari terminal.

Tidak begitu sulit mendapatkan angkutan menuju ke jalur pendakian. Fajar belum menyingsing, beberapa orang menawarkan jasa angkot. Pagi itu juga para pendaki dari Jakarta terpisah menjadi dua bagian; sebagian rombongan menuju jalur pendakian Papandayan, sebagian lagi menuju ke jalur pendakian Cikuray. Kami bertiga pun bergabung dengan kelompok pendaki lain, menyewa sebuah angkot, untuk menuju ke Pos Pemancar Televisi, titik awal pendakian Gunung Cikuray.

Dari terminal Guntur, waktu tempuh menuju ke Pos Pemancar sekitar 90 menit. Seperempat perjalanan melewati jalan mulus, sisanya melwati jalan berbatu melalui perkebunan teh Dayeuh Manggung.

Melangkah terjal


Waktu menunjuk pukul 09.00. Dari Pos Pemancar itulah perjuangan kami dimulai. Usai mengisi daftar tamu di pos pemantau pendaki, kami melewati jalan menanjak menyusuri perkebunan teh dengan track yang gersang dan berdebu. Hanya sekitar 30 menit, sesudah itu kami masuk ke dalam hutan yang cukup teduh untuk menuju Pos 1. Waktu tempuh dari Pos Pemancar menuju Pos I sekitar 60 menit, dengan medan yang cukup menantang.

Track menjadi lebih terjal ketika melakukan perjalanan dari Pos I menuju Pos 2. Kemiringan jalur pendakian mencapai 60 derajat dengan pemandangan sisi kanan dan kiri adalah jurang. Kami beberapa kali beristirahat mengingat di beberapa spot jalur benar-benar sulit. Di antara Pos 1 dan Pos 2 juga terdapat dua sumber mata air. Kami dan para pendaki lain pun mengisi perbekalan air, mengingat di jalur pendakian lebih atas, sudah tidak ada lagi sumber air.  Kami habiskan waktu 60 menit mencapai Pos 2.

Selepas istirahat sejenak, perjalanan kami lanjutkan menuju Pos 3.  Kali ini, track yang kami lalui semakin sulit. Jalan pendakian kerap tertutup akar pohon dan semakin menanjak. Sementara, belantara pepohonan semakin rimbun. Tidak banyak yang bisa dilihat, selain pepohonan besar dan semak belukar. Pada moment ini, kami kerap beristirahat untuk melemaskan kaki, minum dan mengatur nafas yang semakin tersenggal. Di tempat itu kami juga bersepakat makan nasi bungkus yang sebelumnya kami beli di warung yang ada di pos pemancar.

Para pendaki lain, utamanya pendaki perempuan, juga banyak yang beristirahat di jalur ini. Beberapa di antara mereka mulai mengalami kram kaki. Akhirnya, dengan susah payah, kami sampai di pos 3. Waktu yang dibutuhkan, sekitar 100 menit.

Track lebih ekstrim kami temui dalam perjalanan menuju Pos 3. Benar-benar gila, pikir kami. Dengan membawa bekal yang berat, kami harus menyusuri jalanan yang sangat sulit. Tidak jarang kami harus melepaskan ransel terlebih dahulu, agar bisa naik ke bidang yang tingginya bisa mencapai1,5 meter, berpengangan akar pohon atau antara kami saling membantu satu sama lain. Di beberapa waktu, kami juga menjumpai jalanan yang kami sebut dengan ‘tangga akar’.

Curamnya bisa mencapai 80 derajat. Melewati jalan itu, lebih mirip seperti memanjat tebing akar. Tenaga ekstra kami keluarkan. Pada fase ini kami hampir putus asa akibat kelelahan. Akan tetapi, bayangkan akan keindahan di puncak Cikuray terus memacu kami, menambah motivasi kami dan menjadi penyambung nafas kami untuk terus menggerakkan kaki menuju tujuan awal kami. Sekitar 80 menit akhirnya kami bisa sampai di Pos 4.

Waktu sudah menunjuk pukul 15.00 ketika kami dalam perjalanan menuju pos 5. Di jalur ini, kami masih menemui track yang terjal. Sementara, gerimis mulai turun perlahan, lama-lama menjadi hujan dengan intensitas sedang. Jalanan tanah yang menanjak dan licin membuat perjalanan sedikit terhambat. Tenaga terkuras. Kami lebih sering beristirahat di jalur ini karena medan menjadi cukup sulit. Beberapa tenda pendaki sudah mulai terlihat menempati spot-spot sempit di antara Pos 4 dan Pos 5. Mereka mayoritas mengaku hari itu tak sanggup melanjutkan perjalanan ke puncak, dengan cuaca yang tidak mendukung. Beberapa pendaki terlihat terkapar di tenda yang mereka dirikan.

“Nanti malam saja lanjutin naik ke puncak. Dari informasi, di Pos 6 dan Pos 7 sudah tidak ada space lagi mendirikan tenda. Jadi kami putuskan mendirikan tenda di sini,” kata Wahyu (23) pendaki asal Jakarta yang tendanya sempat kami jadikan tempat singgah.

Informasi dari Wahyu sempat membuat kami bertiga saling berpandangan. Kami sempat berdiskusi, apakah pendakian akan dilanjutkan atau kami mencari spot terdekat untuk mendirikan tenda. Tetapi akhirnya kami bersepakat untuk melanjutkan perjalanan. Di tengah guyuran hujan, kami pun dengan berat menapaki jalur sulit itu.

Waktu menunjukkan pukul 18.30 ketika kami tiba di Pos 6. Itu berarti kami melakukan perjalanan lebih dari tiga jam dari pos 5, mengingat banyak waktu yang kami pergunakan untuk istirahat. Benar saja, di Pos 6 sudah tidak ada lagi space untuk mendirikan tenda. Di pos yang memiliki tanah paling lapang dibanding pos-pos sebelumnya, telah terisi penuh oleh tenda para pendaki. Berdasarkan informasi, Pos 6 memang menjadi tempat pilihan pendaki mendirikan tenda, sebelum pada malam harinya mereka melanjutkan perjalanan menuju puncak, untuk mengejar sunrise.

Di Pos 6, kami bertiga gamang. Puncak Cikuray sudah terlihat dari Pos 6 ini. Tetapi kemudian puncak itu menghilang seiring kabut mulai turun dan keadaan semakin gelap. Beberapa pendaki bilang, perlu waktu 1,5 jam lagi untuk sampai ke puncak, melewati medan yang sama sulitnya dengan jalur yang sebelumnya kita tempuh.

Inginnya kami mendirikan tenda di sana dan beristirahat, mengingat tenaga kami sudah hampir habis. Apalagi, dalam perjalanan menuju Pos 6 sebelumnya, kaki saya sempat terkilir. Di pos itu pun kami hanya duduk bersandar pada pohon sembari dikepung hujan dan cuaca yang sudah sangat dingin. Beberapa orang menawarkan kami untuk singgah di tendanya, tapi kami tak enak hati dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan di tengah kegelapan dan hujan lebat.

Petaka muncul ketika kami melakukan perjalanan menuju Pos7. Kram kaki saya bertambah parah. Di sisi lain, tekanan udara sudah mulai menipis. Suhu yang begitu dingin juga membuat kepala kami serasa sedang dibekukan. Kami bertiga memutuskan untuk mendirikan tenda jika menemukan space di belantara pepohonan itu.

Tetapi, sudah 45 menit perjalanan, kami belum menemukan spot yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda. Kanan-kiri kami adalah jurang. Kehabisan tenaga dan dihinggapi rasa dingin, kami sempat berhenti di tengah jalan. Saya yang mengalami sesak nafas, oleh dua teman saya disarankan untuk mengenakan sleeping bed. Sekitar 15 menit saya membungkus badan saya dengan sleeping bed di tengah jalur pendakian.

Di atas awan



Saat tubuh sedikit hangat, kami melanjutkan perjalanan. Hujan masih turun deras. Sekitar 10 menit mendaki, kami menemukan sebuah area yang cukup lapang. Kami bungah. Dengan cepat kami mendirikan tenda di sana. Dalam balutan sleeping bed, selama beberapa jam kami bisa tidur nyenyak.

Alarm berbunyi. Pukul 03.00. Di luar tenda, sudah ramai para pendaki yang hendak menuju ke puncak. Kami bertiga bangun dan segera mempersiapkan barang-barang untuk dibawa ke puncak. Kali ini kami tidak membawa carier, hanya tas kecil berisi kamera dan sebotol minuman. Barang-barang lainnya, kami tinggal di dalam tenda. Ditemani hujan, kami pun melanjutkan perjalanan ke puncak melewati jalur yang terjal dan licin. Sekitar 30 menit dari tenda, kami sampai di Pos 7 yang merupakan puncak bayangan. Benar saja, tempat itu sudah terisi penuh dengan tenda. Kami pun melanjutkan perjalanan hingga 15 menit kemudian kami bisa sampai di puncak.

Perjuangan kami terbayar. Meskipun suasana pagi itu mendung, setidaknya kami sudah bisa mencapai apa yang menjadi tujuan kami. Satu jam kemudian, apa yang kami tunggu pun tiba. Matahari perlahan mulai tampak dari persembunyiannya. Sunrise yang benar-benar spesial. Pada moment inilah kepuasan pendaki teraih. Berdiri di atas gulungan awan, menatap sinar mentari perawan. Meraih puncak Cikuray, pengalaman tak terlupakan bagi kami. (Fha)


Gunung Cikuray

Ketinggian: 2818 mdpl
Cara Tempuh dan Biaya dari Jakarta

Terminal Kampung Rambutan- Terminal Guntur dengan Bus Ekonomi AC: Rp42.000

Angkot dari Terminal Guntur ke Pemancar Televisi: Rp40.000

Biaya Pos Masuk: Rp3000

Angkot dari Pemancar ke Terminal Guntur: Rp40.000

Bus Ekonomi AC dari Terminal Guntur ke Kampung Rambutan: Rp42.000

Label:
0 Responses

Posting Komentar

terimakasih atas atensinya...

Powered By Blogger

  • Foto saya
    DKI Jakarta
    Wartawan di harian Warta Kota, Kompas Gramedia. Follow @FeryantoHadi

    Total Tayangan Halaman

    Pengikut Blog


    waktu jualah yang akan menghentikan pengembaraan singkat ini