Sentra Pengrajin Tempe Jakarta Selatan

foto:http://en.wikipedia.org/wiki/Tempeh

Eko Ristiyanto (27) tampak tekun memasukkan kedelai-kedelai yang telah dicuci ke dalam kantong plastik berbagai ukuran. Ia harus memastikan kedelai di dalam plastik itu padat, agar mendapatkan kualitas tempe yang baik. Usai packaging (pengemasan), ia menata tempe-tempe di atas papan panjang. Itu adalah proses penjemuran sebelum tempe bisa bisa dikonsumsi.

"Seluruhnya ada lima proses dalam membuat tempe. Perebusan, perendaman, pencucian, packaging sama penjemuran. Dari kedelai menjadi tempe siap konsumsi, butuh waktu tiga hari," kata Eko kepada Warta Kota, Rabu (22/10).

Sudah lima tahun Eko bekerja sebagai karyawan pembuatan tempe di salah satu pengrajin tempe di Gang Tempe, RT16/09 Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan. Seperti diketahui, kawasan tersebut merupakan sentra pengrajin tempe terbesar di Jakarta Selatan.

Selain Eko, ada ratusan pekerja lain yang menggantungkan hidup di kawasan itu. Eko sendiri bekerja di rumah produksi tempe milik Solichin (50), salah satu pengrajin tempe sukses.

Solichin, ketika ditemui,  mengaku sudah lama menekuni usaha ini, sejak 1984. Saat itu, pria asal Pekalongan ini menjajakan tempe dengan sepeda onthel, dari kontrakannya di kawasan Tebet ke Pasar Kebayoran Lama.

"Baru pada 1996 saya pindah ke sini. Kebetulan saat itu diberikan fasilitas kredit rumah oleh pemerintah untuk para pengrajin tempe," jelasnya.

Selama puluhan tahun Solichin bertahan pada usahanya itu, hingga sekarang. Ia menyebut kini persaingan semakin ketat lantaran semakin banyak pengrajin tempe. Jumlah produksinya pun kini sudah tidak terlalu banyak, dibandingkan di era 1990an, dimana ia merasai kejayaan dari kegiatannya membuat dan menjual tempe.

Saat ini, dalam sehari, Solichin mampu memproduksi 90 kilo gram kedelai yang menghasilkan sebanyak 130 kilo gram tempe. Tempe dicetak dalam dua jenis kemasan, 7 ons atau 12x30 cm dan  5,5 ons atau 11x30 cm. Masing-masing dijual Rp7.000 dan Rp5000. Adapun proses produksi tempe dilakukan Solichin setiap hari, dari pukul 08.00 hingga 15.00.

"Jualnya sekitar jam tiga dini hari, di Pasar Kebayoran Lama," ujarnya. Pelanggannya bervariasi, dari tengkulak, pemilik warung makan hingga masyarakat biasa. "Tapi paling banyak pembelinya para tengkulak. Mereka biasanya akan dijual lagi di kampung-kampung," jelasnya.

Dari jumlah produksi tersebut, Solichin mampu mengantongi omset rata-rata Rp1,3 juta dengan keuntungan bersih Rp100.000. Tetapi, pada musim-musim tertentu, khususnya sepekan sesudah lebaran, ia mampu mengantongi omset yang lebih tinggi.

"Permintaan tempe sesudah lebaran itu sangat tinggi. Kemudian pada musim hujan juga, permintaan tempe naik. Pada moment-moment itu saya bisa menghabiskan lebih dari 1 kwintal kedelai dalam sehari," jelasnya.

Siswanto (34) pengrajin tempe lainnya, mampu memproduksi tempe lebih banyak. Dalam sehari, ia menghabiskan 150 kilogram kedelai. Setelah diolah, jumlah itu bisa menjadi sekitar 500 papan, dengan berat satu tempe 4 ons. Dari jumlah itu, Siswanto mampu meraih omset Rp1,8 juta dengan keuntungan bersih Rp400.000 per hari.

Kampung Tempe

Tempat yang kemudian disebut sebagai Kampung Tempe itu berada di ujung Jalan KH Mas'ud. Papan-papan untuk menjemur tempe segera dijumpai ketika masuk ke gang berukuran sekitar tiga meter. Aktivitas para pengrajin tempe biasanya tampak pada siang hingga sore hari, ketika orang-orang sibuk menjemur tempe di depan rumh mereka.

Siswanto, pengrajin tempe yang juga Ketua RT 016/09 Kelurahan Kebayoran Lama Utara, Jakarta Selatan mengatakan, di kawasan itu terdapat setidaknya 70 pengrajin tempe yang tergabung dalam Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) Jakarta Selatan. Mayoritas pengrajin berasal dari Pekalongan, Jawa Tengah.

Masing-masing pengrajin, mempunyai setidaknya 2-3 karyawan. Jadi, kata Solichin, di sentra pengrajin tempe di sana mampu meraup ratusan tenaga kerja.

"Dulu tempat ini adalah rawa, sebelum kemudian difungsikan sebagai sentra pengrajin tempe pada 1992. Sebelumnya pengrajin tempe tinggal berpencar, paling banyak di Gang Kembang, di depan lokasi yang kini menjadi Gandaria City, " jelasnya.

Dikatakannya, pada era 1990-1998, para pengrajin tempe berada pada puncak kejayaan. Pasalnya, saat itu distribusi kedelai masih dikendalikan oleh pemerintah melalui Bulog. Sementara, semenjak terjadinya krisis ekonomi pada 1998, mengakibatkan harga kedelai melambung dan Bulog tidak lagi mendistribusikan kedelai kepada para pengrajin. Saat itu industri tempe dan tahu sempat goyang.

"Dulu harganya murah, sebelum reformasi. Harga satu kwintalnya Rp250.000. Margin keuntungan jadi besar. Jauh bila dibandingkan dengan sekarang, dimana harga kedelai mencapai Rp830.000 satu kwintalnya. Sementara harga jual tempe tidak bisa kita naikkan begitu saja," tuturnya.

Solichin mengakui, banyak pengrajin tempe yang menuai kesuksesan, terutama mereka yang memulai usaha era 1980-1998. Hasil kesuksesan bisaa dilihat dari kepemilikan rumah, kendaraan dan tidak sedikit pula yang sudah menunaikan ibadah haji.

"Pengrajin tempe menjadi satu penopang ekonomi mikro. Di Jakarta Selatan sendiri, yang terdaftar di Primkopti sebanyak 1040 pengrajin. Padahal belum semua pengrajin masuk keanggotaan Primkopti. Sementara, ribuan pengrajin lainnya tersebar di seluruh wilayah Jakarta," ungkapnya.(Fha)

Label:
2 Responses
  1. Unknown Says:

    APAKAH ANDA PRIA BISNIS / WANITA, A PEKERJA DI ORGANISASI, Wiraswasta? Membutuhkan pinjaman pribadi untuk bisnis tanpa stres, Jika demikian, hubungi kami hari ini, kami menawarkan pinjaman musim Natal di tingkat bunga rendah dari 2%, Anda dapat mulai bulan baru dengan senyum di wajah Anda, keselamatan, kebahagiaan kami pelanggan adalah kekuatan kita. Jika Anda tertarik, mengisi formulir aplikasi pinjaman di bawah:
    Informasi Peminjam:

    Nama lengkap: _______________
    Negara: __________________
    Seks: ______________________
    Usia: ______________________
    Jumlah Pinjaman Dibutuhkan: _______
    Durasi Pinjaman: ____________
    Tujuan pinjaman: _____________
    Nomor ponsel: ________

    Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi kami sekarang melalui email: gloryloanfirm@gmail.com



Posting Komentar

terimakasih atas atensinya...

Powered By Blogger

  • Foto saya
    DKI Jakarta
    Wartawan di harian Warta Kota, Kompas Gramedia. Follow @FeryantoHadi

    Total Tayangan Halaman

    Pengikut Blog


    waktu jualah yang akan menghentikan pengembaraan singkat ini